satu hari mempertaruhkan segalanya.
2 tahun hidup dalam kebimbangan.
2 tahun hidup dalam ketidakpastian.
berusaha untuk sesuatu yang tak mngkin.
berusaha memberikan yang terbaik tapi tak ada yang terbaik.
Berharap tapi tak datang.
Ketakutan selalu mengahantui setiap perasaan yang datang.
Aku,aku dan selalu aku.
Panggil saja yang lain.
Biarkan aku berdiri dan menghirup udara sejenak.
Hanya sebentar saja.
Thursday, June 4, 2009
Monday, May 18, 2009
hilang
ditinggalkan.
disaat menumpuk semuanya pergi.
disaat diam, dia diam.
disaat berisik, dia berisik.
saat air mata jatuh, dia menambahnya.
disaat sesal datang, dia menambahnya.
kalau memang harus hilang, silahkan.
pergi.
semuanya memang harus kembali kepada awal.
tidak ada akhir.
akhir adalah awal.
disaat rasa membengkak dan ingin berteriak, dia tidak pernah ada.
disaat susah melepaskan, dia pergi.
disaat semuanya indah, indah tak ada.
menambah kebingungan.
menambah jam kelelahan.
terus berpikir dan berpikir, harus bagaimana?
tak ada penyelesaian dari aku sendiri.
tak tau kapan akhir ini semua.
kita bersama menunggu untuk ketidakjelasan.
pergilah kalau memang harus pergi.
bukan karena kita tapi karena aku.
disaat menumpuk semuanya pergi.
disaat diam, dia diam.
disaat berisik, dia berisik.
saat air mata jatuh, dia menambahnya.
disaat sesal datang, dia menambahnya.
kalau memang harus hilang, silahkan.
pergi.
semuanya memang harus kembali kepada awal.
tidak ada akhir.
akhir adalah awal.
disaat rasa membengkak dan ingin berteriak, dia tidak pernah ada.
disaat susah melepaskan, dia pergi.
disaat semuanya indah, indah tak ada.
menambah kebingungan.
menambah jam kelelahan.
terus berpikir dan berpikir, harus bagaimana?
tak ada penyelesaian dari aku sendiri.
tak tau kapan akhir ini semua.
kita bersama menunggu untuk ketidakjelasan.
pergilah kalau memang harus pergi.
bukan karena kita tapi karena aku.
Sunday, May 17, 2009
untitled
semuanya datang dan pergi.
datang sangat lama dan akhirnya harus pergi.
mengumandangkan perjuangan tetapi tak pernah berjuang.
lelah tanpa berjuang.
bertahan dari perjuangan.
hanya belum waktunya untuk diutarakan.
tali itu masih terlalu tipis.
kekurangan dan keanehan menghantui.
ingin mengakhiri semua tetapi tak boleh.
penerimaan yang indah saat diucapkan.
berikan suatu ketenangan saat gemerincing terus berbunyi.
berikan suatu kedamaian saat diam itu datang.
bukan kesabaran tetapi pengertian.
berhenti untuk bersabar tetapi tolonglah untuk melihat.
tak mudah menjalani beberapa kehidupan.
tak mudah menjalaninya sendiri.
hidup mencakup segalanya.
tak mungkin dipisah dari satu sama lain, tak mungkin.
datang sangat lama dan akhirnya harus pergi.
mengumandangkan perjuangan tetapi tak pernah berjuang.
lelah tanpa berjuang.
bertahan dari perjuangan.
hanya belum waktunya untuk diutarakan.
tali itu masih terlalu tipis.
kekurangan dan keanehan menghantui.
ingin mengakhiri semua tetapi tak boleh.
penerimaan yang indah saat diucapkan.
berikan suatu ketenangan saat gemerincing terus berbunyi.
berikan suatu kedamaian saat diam itu datang.
bukan kesabaran tetapi pengertian.
berhenti untuk bersabar tetapi tolonglah untuk melihat.
tak mudah menjalani beberapa kehidupan.
tak mudah menjalaninya sendiri.
hidup mencakup segalanya.
tak mungkin dipisah dari satu sama lain, tak mungkin.
sunday night
mencoba dan terus mencoba.
mencoba bertahan dari perang yang terjadi.
bersembunyi dari tempat persembunyian.
menutup telinga dari suara tembakan.
terus memutar otak untuk mencari perdamaian.
berjalan dan berlari hingga berkejaran dengan waktu.
kaki tak dapat berhenti untuk mencari tempat persembunyian.
kaki terus mencari tempat berpijak.
hingga tak sempat untuk terlelap.
ketakutan selalu datang saat tertangkap dengan panglima perang.
was-was saat berbicara dengan panglima perang.
bergidik tajam saat setiap kata darinya terlontar.
terus memutar otak untuk mencari perdamaian.
perang yang tak seharusnya terjadi.
perang yang hanya karena ketamakan.
perang yang hanya karena kekelaman.
perang karena ego.
berusaha untuk berdamai tetapi tak bisa.
mereka mengatakannya seperti itu.
dan perang terus terjadi.
prajurit selalu menjadi korban kematian.
panglima perang tak pernah perduli akan prajuritnya.
bukan hanya masalah perut atau kantong sebenarnya.
masalah hidup dan mati sebenarnya.
terus memaksa prajurit untuk berlatih.
hanya berlatih sampai mati.
melibatkan prajurit tetapi tak pernah dianggap.
intinya,prajurit hanya mendengar omong kosong panglima lalu terbunuh.
malangnya nasib prajurit karena tak ada yg mengerti.
prajurit hanya menjalankan perintah dan rela untuk mati.
semua berpusat kepada panglima dan prajurit mati perlahan-lahan.
selamat tinggal!
mencoba bertahan dari perang yang terjadi.
bersembunyi dari tempat persembunyian.
menutup telinga dari suara tembakan.
terus memutar otak untuk mencari perdamaian.
berjalan dan berlari hingga berkejaran dengan waktu.
kaki tak dapat berhenti untuk mencari tempat persembunyian.
kaki terus mencari tempat berpijak.
hingga tak sempat untuk terlelap.
ketakutan selalu datang saat tertangkap dengan panglima perang.
was-was saat berbicara dengan panglima perang.
bergidik tajam saat setiap kata darinya terlontar.
terus memutar otak untuk mencari perdamaian.
perang yang tak seharusnya terjadi.
perang yang hanya karena ketamakan.
perang yang hanya karena kekelaman.
perang karena ego.
berusaha untuk berdamai tetapi tak bisa.
mereka mengatakannya seperti itu.
dan perang terus terjadi.
prajurit selalu menjadi korban kematian.
panglima perang tak pernah perduli akan prajuritnya.
bukan hanya masalah perut atau kantong sebenarnya.
masalah hidup dan mati sebenarnya.
terus memaksa prajurit untuk berlatih.
hanya berlatih sampai mati.
melibatkan prajurit tetapi tak pernah dianggap.
intinya,prajurit hanya mendengar omong kosong panglima lalu terbunuh.
malangnya nasib prajurit karena tak ada yg mengerti.
prajurit hanya menjalankan perintah dan rela untuk mati.
semua berpusat kepada panglima dan prajurit mati perlahan-lahan.
selamat tinggal!
Monday, May 4, 2009
another side of this part
Semuanya baik-baik dan kebetulan saja.
Semuanya hanya perkiraan.
Semuanya hanya terjadi.
Bermula entah kapan dan entah bagaimana.
Bingung saat dihadapkan kepada sebuah kebenaran.
Kegilaan pertama dan mutlak.
Bertahun-tahun sudah.
Diberikan suatu jawaban dari oranglain.
Oranglain yang memang tak brarti dan tak ada di hidupku tapi ada yang berbeda.
Perbedaan besar baru saja bangun tapi aku tak sadar.
Dia yang membangunkan dengan semua pertanyaan.
Bukan perasaan indah.
Bukan perasaan romantis.
Perasaan takut dan gelisah.
Perasaan menolak tetapi terus datang.
Tetap bertanya dan tiada henti pertanyaan datang.
Memutar otak tetapi tak ada jawaban disana.
Berdoa dan bertelut mengharapkan jawaban.
1 jawaban : ikhlas.
tak berarti menjadi sangat berarti saat bersyukur.
Bersyukur untuk semua yang didapat.
Bersyukur untuk kelebihan yg aneh.
Untuk semua keanehan, sudah kusyukuri.
Dia ada di prputaran hidup sekarang.
Semuanya hanya perkiraan.
Semuanya hanya terjadi.
Bermula entah kapan dan entah bagaimana.
Bingung saat dihadapkan kepada sebuah kebenaran.
Kegilaan pertama dan mutlak.
Bertahun-tahun sudah.
Diberikan suatu jawaban dari oranglain.
Oranglain yang memang tak brarti dan tak ada di hidupku tapi ada yang berbeda.
Perbedaan besar baru saja bangun tapi aku tak sadar.
Dia yang membangunkan dengan semua pertanyaan.
Bukan perasaan indah.
Bukan perasaan romantis.
Perasaan takut dan gelisah.
Perasaan menolak tetapi terus datang.
Tetap bertanya dan tiada henti pertanyaan datang.
Memutar otak tetapi tak ada jawaban disana.
Berdoa dan bertelut mengharapkan jawaban.
1 jawaban : ikhlas.
tak berarti menjadi sangat berarti saat bersyukur.
Bersyukur untuk semua yang didapat.
Bersyukur untuk kelebihan yg aneh.
Untuk semua keanehan, sudah kusyukuri.
Dia ada di prputaran hidup sekarang.
Friday, May 1, 2009
feeling connected
Lagi ngobrol, nongkring, ketawa-ketawa.
Tiba-tiba perasaan ga sesuai dgn tindakan.
Panik, gelisah, takut.
Jantung berdegup jauh lebih cepet.
Bahkan menangis bersama dengan perasaan asli berbeda.
Langsung ambil handphone.
Mengetik sesuatu di ym atau sms.
"Lo kenapa? Something wrong?"
Dikirim.
Ga lama balasannya datang.
"Gue kenapa-kenapa. Tolong gue!"
Ngautis di depan hp ampe semuanya fine.
Being a great listener and reader.
Hanya itu. Jalur hidup sedikit bertambah.
Tiba-tiba perasaan ga sesuai dgn tindakan.
Panik, gelisah, takut.
Jantung berdegup jauh lebih cepet.
Bahkan menangis bersama dengan perasaan asli berbeda.
Langsung ambil handphone.
Mengetik sesuatu di ym atau sms.
"Lo kenapa? Something wrong?"
Dikirim.
Ga lama balasannya datang.
"Gue kenapa-kenapa. Tolong gue!"
Ngautis di depan hp ampe semuanya fine.
Being a great listener and reader.
Hanya itu. Jalur hidup sedikit bertambah.
Friday, April 3, 2009
April, 3rd 2009. fly.
Aku hanya seorang yang rentan, takut menghadapi kenyataan pahit, mencoba selalu lari dari masalah. Aku yang ramai mempunyai hati yang pendiam. Aku menghadapi kegalauan, Aku mengahadapi semuanya sendiri.
Tanggal 1 April 2009. Puncak dari segalanya.
Aku menangis di pelukan sahabatku. Aku berteriak di depan mukanya. Aku mengumpat di depan mukanya. Dia memelukku.
Malam yang panjang yang bisa membuatku tak sadarkan diri. Muntahku, umpatku, tangisku, sendiriku rasanya keluar semuanya. Aku jatuh, tersungkur ke bagian yang paling dalam. Tak kuat untuk berdiri dan memanjat. Tiba-tiba datang seorang malaikat yang memeberikan sayap untuk aku terbang ke atas tetapi dia pergi dan membuat sayap itu tak berguna karena aku tak tau cara untuk terbang.
Meminta tolong tetapi tidak ada yang mendengar. Berteriak tetapi tidak ada yang peduli. Mengumpat tetapi dilempari batu. Jatuh dan tak berdaya. Selalu belajar untuk terbang tetapi aku kelelahan dan terjatuh lagi. Malaikat itu hanya berkata terbang dan sayap itu akan mengikutimu. Aku tak mengerti.
Jurang ini aku lihat, kutelusuri. Ternyata ada oranglain yang kukenal. Dulu orang-orang itu iri melihat kebahagiaan yang aku punya dan aku bangga akan itu. Sekarang orang itu sudah punya kekuatan untuk memanjat sementara aku mempunyai sayap untuk terbang. Aku tidak berguna begitu juga sayap itu. Tertunduk lemas kepalaku karena orang itu akan pergi dari tempat ini.
Aku menyerah. Aku ingin mati bersama di jurang ini. Aku pasrah untuk dibunuh disini. Aku siap selalu dilempari batu. Aku ikhlas untuk sendiri. Aku akan menghadapi semuanya sendiri. Tetapi tak akan pernah aku berikan sayap itu kepada oranglain. Tak akan! Dan semuanya akan aku jalani sendiri.
Malaikat itu berjanji akan kembali untuk mengajariku.
Tanggal 1 April 2009. Puncak dari segalanya.
Aku menangis di pelukan sahabatku. Aku berteriak di depan mukanya. Aku mengumpat di depan mukanya. Dia memelukku.
Malam yang panjang yang bisa membuatku tak sadarkan diri. Muntahku, umpatku, tangisku, sendiriku rasanya keluar semuanya. Aku jatuh, tersungkur ke bagian yang paling dalam. Tak kuat untuk berdiri dan memanjat. Tiba-tiba datang seorang malaikat yang memeberikan sayap untuk aku terbang ke atas tetapi dia pergi dan membuat sayap itu tak berguna karena aku tak tau cara untuk terbang.
Meminta tolong tetapi tidak ada yang mendengar. Berteriak tetapi tidak ada yang peduli. Mengumpat tetapi dilempari batu. Jatuh dan tak berdaya. Selalu belajar untuk terbang tetapi aku kelelahan dan terjatuh lagi. Malaikat itu hanya berkata terbang dan sayap itu akan mengikutimu. Aku tak mengerti.
Jurang ini aku lihat, kutelusuri. Ternyata ada oranglain yang kukenal. Dulu orang-orang itu iri melihat kebahagiaan yang aku punya dan aku bangga akan itu. Sekarang orang itu sudah punya kekuatan untuk memanjat sementara aku mempunyai sayap untuk terbang. Aku tidak berguna begitu juga sayap itu. Tertunduk lemas kepalaku karena orang itu akan pergi dari tempat ini.
Aku menyerah. Aku ingin mati bersama di jurang ini. Aku pasrah untuk dibunuh disini. Aku siap selalu dilempari batu. Aku ikhlas untuk sendiri. Aku akan menghadapi semuanya sendiri. Tetapi tak akan pernah aku berikan sayap itu kepada oranglain. Tak akan! Dan semuanya akan aku jalani sendiri.
Malaikat itu berjanji akan kembali untuk mengajariku.
Saturday, March 21, 2009
For The 3rd sister of mine
i know you're in dillema.
i know you mad about this things.
i know you're in trouble, difficulties.
i know your heart beat faster cause you don't know which one.
i know you miss all of us.
i know you miss the old time, a time shouldn't has an end.
you with your family.
you have your responsibility.
make no expired date for your love.
create your own love.
you don't have to be worry.
everything in here gonna be fine like usual.
we both know things are not going so good.
we both know our family isn't in the safe zone.
we both know bad things are happening.
we both know a time like this we should be together but we already into it.
we still together, not distancely.
just click pause on your life's remote.
take a very deep breath. scream out loud.
click play and act like nothing happened.
make a quick relaxing.
life is walking their way.
you have to walk on it cause you are life.
life won't wait till you ready.
life is changing so, you can't go to the past.
enjoy your life because that's the only option.
enjoy it and make it like you want.
the rules is yours.
don't think something out of your world too much.
you've done something bigger than this.
you've done a very struggle way and you can out of it.
i know you're stronger than your problem and your mind's play of life.
we've been together for more than 18years.
you're my craziest sister.
you're my funkiest sister.
you're my sister and you're my everything.
out of your mind's play and face it step by step.
show the world how crazy you are cause I know,you as a designer has thousands way so you have a thousand creative way to escape.
whatever happen,you are still my role model.
you are the best sister ever and hope it will never has an end.
love you ci. take care!
you are great in so many ways!
think carefully before you speak it or act.
i know you mad about this things.
i know you're in trouble, difficulties.
i know your heart beat faster cause you don't know which one.
i know you miss all of us.
i know you miss the old time, a time shouldn't has an end.
you with your family.
you have your responsibility.
make no expired date for your love.
create your own love.
you don't have to be worry.
everything in here gonna be fine like usual.
we both know things are not going so good.
we both know our family isn't in the safe zone.
we both know bad things are happening.
we both know a time like this we should be together but we already into it.
we still together, not distancely.
just click pause on your life's remote.
take a very deep breath. scream out loud.
click play and act like nothing happened.
make a quick relaxing.
life is walking their way.
you have to walk on it cause you are life.
life won't wait till you ready.
life is changing so, you can't go to the past.
enjoy your life because that's the only option.
enjoy it and make it like you want.
the rules is yours.
don't think something out of your world too much.
you've done something bigger than this.
you've done a very struggle way and you can out of it.
i know you're stronger than your problem and your mind's play of life.
we've been together for more than 18years.
you're my craziest sister.
you're my funkiest sister.
you're my sister and you're my everything.
out of your mind's play and face it step by step.
show the world how crazy you are cause I know,you as a designer has thousands way so you have a thousand creative way to escape.
whatever happen,you are still my role model.
you are the best sister ever and hope it will never has an end.
love you ci. take care!
you are great in so many ways!
think carefully before you speak it or act.
Friday, March 20, 2009
done
Sesuatu yang kosong bisa saja terisi ataupun memang tidak untuk diisi dan sesuatu yang terlalu penuh memang tidak akan bisa terisi lagi. Buat apa mengisi sesuatu yang memang tidak bisa diisi lagi? Useless.
Bukan melupakan yang lama tetapi melihat kembali apa yang sudah diisi. Apakah itu benar-benar terisi atau tidak, atau ternyata terisi terlalu penuh?
Entah,mungkin terlalu penuh sehingga sudah tak bisa terisi lagi. Tak ada yang bisa dibagi lagi dan tak ada yang perlu didengar. Suatu kesalahan kecil mungkin tapi membuat semuanya kosong. Tak mau tau lagi dan berhenti untuk peduli. Berhenti menjadi bayang-bayang dan berhenti untuk melangkah. Pergi saja. Itu sudah lebih dari cukup. Mungkin nanti bisa diisi lagi. Mungkin nanti.
Mengisi bukan asal mengisi tapi terisi dengan indah. Bukan karena kesempurnaan tetapi karena kekurangan. Mungkin nanti bukan sekarang. Sudah terlalu penuh.
Bukan melupakan yang lama tetapi melihat kembali apa yang sudah diisi. Apakah itu benar-benar terisi atau tidak, atau ternyata terisi terlalu penuh?
Entah,mungkin terlalu penuh sehingga sudah tak bisa terisi lagi. Tak ada yang bisa dibagi lagi dan tak ada yang perlu didengar. Suatu kesalahan kecil mungkin tapi membuat semuanya kosong. Tak mau tau lagi dan berhenti untuk peduli. Berhenti menjadi bayang-bayang dan berhenti untuk melangkah. Pergi saja. Itu sudah lebih dari cukup. Mungkin nanti bisa diisi lagi. Mungkin nanti.
Mengisi bukan asal mengisi tapi terisi dengan indah. Bukan karena kesempurnaan tetapi karena kekurangan. Mungkin nanti bukan sekarang. Sudah terlalu penuh.
Wednesday, March 4, 2009
mereka. sahabat.
Sepuluh hari berlalu.
Berada di kota tempatku bertumbuh.
Kota kecil yang mulai berkembang.
Kota yang semakin ramai.
Kota yang indah.
Sebuah kota yang selalu membuat mesin waktuku berjalan.
Mesin-mesin itu mulai mulai menyala.
Jejak-jejak langkah mulai tampak.
Monitor-monitor masa lalu mulai bermunculan.
Aku berjalan perlahan.
Mundur tahap demi tahap.
Lonceng pagi yang menandakan saatnya masuk kelas tak pernah kudengar karena hobby terlambatku yang sangat parah.
Tak pernah jera dimarahi.
Tak pernah kapok dengan hukuman.
Tak pernah kusedih ataupun bersungut karenanya.
Aku bahagia. Tak mengerti apa yang akan terjadi atau apa yang sedang terjadi di luar sana. Kepolosan dan keluguan yang pernah singgah.
Aku bermain, belajar sambil bermain dan terus bermain.
Tidak pernah absen satu kalipun untuk duduk di ayunan biru itu.
Tidak pernah menolak bermain perosotan.
Tidak pernah mau kehilangan taman bermainku. Selalu.
2 tahun kulalui taman kanak-kanak karena ibuku melarangku untuk melanjutkan SD di usia 6 tahun. Menurut dia, aku masih terlalu kecil. Entahla, katanya begitu.
Tak sia-sia 2 tahun kulewati.
Tak pernah kusesali hal itu.
Tak pernah kumarah karenanya.
Karena aku bermain.
Tarikan magnet yang membuat perasaan sedih dan marah hilang.
Sampai semuanya jelas bahwa aku bahagia berada 1 tahun lebih lama di tempat itu.
Lebih bahagia dan jauh lebih bahagia di tempat itu.
Guruku sering mengajak kami bernyanyi. Entah lagu apa. Aku lupa.
Dan guruku juga sering menyuruh kami menggambar.
Pada siang hari, kami disuruh menggambar bunga tetapi bukan bunga yang kugambar, yg kugambar hanya oret-oretan yang tak berbentuk. Guruku datang dan memeriksa kertas gambarku. Diambilnya pensil dan digenggamkannya di tanganku. Perlahan dia membuat jemariku menari. Perlahan membuat tarian itu berbentuk. Perlahan tarian itu menjadi keindahan. Keindahan gambar bunga yang pertama kali kubuat. Saat itu yang paling kuingat.
Beberapa lama berlalu dan aku tidak ingat kapan tepatnya. Guruku yang memberikan tarian pada jemariku, yang membuat keindahan di genggamanku telah tiada. Tepatnya di suatu siang di saat perjalanan pulang ke rumah sehabis mengajar kami di sekola. Entah karena apa. Aku tak mengerti.
Mesin waktu itu terus berputar dan terus berputar. Memberikan cuplikan-cuplikan indah di saatku kanak-kanak. Memberikan tawa dan haru yang tak bisa kubendung. Tak ada rasa takut yang terjadi. Hanya di sekolah itu aku merasakan bahwa sunyi sedang diam menungguku di rumah. Aku merasakan bahwa sunyi memberikanku kebebasan saat di sekolah. Oleh karena itu, tak pernah kuingin pergi dari sekolah itu.
Taman kanak-kanak hingga sekolah dasar pun kulalui bersama mereka. Aku menumpahkan bekalku sendiri di hari pertama, datang terlambat di hari pertama, membuat keributan, marah dan tawa yang kubagi, persahabatan yang indah kulalui bersama mereka, waktu yang tak dapat dibeli. Terlalu berharga.
Tak lama aku mengalami masa berharga itu. Hanya sebentar karena waktu yang membuat semua itu berhenti. Berhenti hanya untukku saja. Waktu yang membuat semuanya harus kutangisi. Tak bisa kusalahi siapapun. Aku masih terlalu kecil untuk memberontak. Aku masih terlalu kecil untuk berdiri sendiri. Aku pindah dan tak bertemu dengan mereka beberapa tahun.
8 tahun terlalu singkat untuk dirasakan. Teman-teman baru yang dekat denganku sudah kudapat tapi masih tetap cuplikan itu datang dan pergi. Aku bertemu dengan mereka tiba-tiba. Bertemu dengan sahabat-sahabatku semasa kecil. Melalui dunia maya yang tak kuduga-duga dan akhirnyapun aku bertemu dengan mereka. Teman-teman baik ku semasa kecil.
Tak kuduga pertemuan itu begitu melekat. Bukan karena waktu yang begitu lama tapi keapaadaan yang mereka terima. Tinggal di kota itu membuat pemikiran orang-orang disitu begitu sempit sehingga membuat pemikiran merekapun begitu. Kota kecil memang sehingga membuatku mengerti. Kekuranganku karena sudah terlau lama tinggal di kota besar ini. Membuat perbedaan yang cukup besar di antara kami. 1 perbedaan kecil sederhana yang membuat semuanya begitu besar. Kubuka kekuranganku di hadapan mereka. Di hadapan sahabat-sahabat semasa kecilku.
Kupikir penolakan yang mereka berikan. Awal yang membuatku takut. Awal yang memberikan perbedaan besar. Kubuka semua tentangku. Kuceritakan aku yang ternyata bertolak belakang dengan mereka. Takut kumemulai. Berakhir dengan mereka tersenyum. Kutahu mereka tak suka tapi mereka menerima. Penerimaan yang begitu berharga. Mereka merangkul sahabat mereka dan berjalan bersamanya. Tetap seperti dulu dan tetap tertawa bersama. Membuat sebuah janji konyol diantara kami. Memutar cuplikan-cuplikan indah kami. Kami sudah dewasa dan menjadikan kekurangan itu sempurna.
Hubungan yang timbul tenggelam tidak menjadi halangan kami berjalan. Aku tau persahabatan itu timbul saat kami kecil dan pelajaran paling berharga bagiku. Indah saat mereka ternyata masih menggenggam tanganku. Sahabat memang harus bisa menerima kekurangan untuk kesempurnaan. Mereka bukan sahabat semasa kecilku tetapi sahabatku hingga hari ini, besok dan nanti.Sahabat yang paling berarti. Mereka.
Berada di kota tempatku bertumbuh.
Kota kecil yang mulai berkembang.
Kota yang semakin ramai.
Kota yang indah.
Sebuah kota yang selalu membuat mesin waktuku berjalan.
Mesin-mesin itu mulai mulai menyala.
Jejak-jejak langkah mulai tampak.
Monitor-monitor masa lalu mulai bermunculan.
Aku berjalan perlahan.
Mundur tahap demi tahap.
Lonceng pagi yang menandakan saatnya masuk kelas tak pernah kudengar karena hobby terlambatku yang sangat parah.
Tak pernah jera dimarahi.
Tak pernah kapok dengan hukuman.
Tak pernah kusedih ataupun bersungut karenanya.
Aku bahagia. Tak mengerti apa yang akan terjadi atau apa yang sedang terjadi di luar sana. Kepolosan dan keluguan yang pernah singgah.
Aku bermain, belajar sambil bermain dan terus bermain.
Tidak pernah absen satu kalipun untuk duduk di ayunan biru itu.
Tidak pernah menolak bermain perosotan.
Tidak pernah mau kehilangan taman bermainku. Selalu.
2 tahun kulalui taman kanak-kanak karena ibuku melarangku untuk melanjutkan SD di usia 6 tahun. Menurut dia, aku masih terlalu kecil. Entahla, katanya begitu.
Tak sia-sia 2 tahun kulewati.
Tak pernah kusesali hal itu.
Tak pernah kumarah karenanya.
Karena aku bermain.
Tarikan magnet yang membuat perasaan sedih dan marah hilang.
Sampai semuanya jelas bahwa aku bahagia berada 1 tahun lebih lama di tempat itu.
Lebih bahagia dan jauh lebih bahagia di tempat itu.
Guruku sering mengajak kami bernyanyi. Entah lagu apa. Aku lupa.
Dan guruku juga sering menyuruh kami menggambar.
Pada siang hari, kami disuruh menggambar bunga tetapi bukan bunga yang kugambar, yg kugambar hanya oret-oretan yang tak berbentuk. Guruku datang dan memeriksa kertas gambarku. Diambilnya pensil dan digenggamkannya di tanganku. Perlahan dia membuat jemariku menari. Perlahan membuat tarian itu berbentuk. Perlahan tarian itu menjadi keindahan. Keindahan gambar bunga yang pertama kali kubuat. Saat itu yang paling kuingat.
Beberapa lama berlalu dan aku tidak ingat kapan tepatnya. Guruku yang memberikan tarian pada jemariku, yang membuat keindahan di genggamanku telah tiada. Tepatnya di suatu siang di saat perjalanan pulang ke rumah sehabis mengajar kami di sekola. Entah karena apa. Aku tak mengerti.
Mesin waktu itu terus berputar dan terus berputar. Memberikan cuplikan-cuplikan indah di saatku kanak-kanak. Memberikan tawa dan haru yang tak bisa kubendung. Tak ada rasa takut yang terjadi. Hanya di sekolah itu aku merasakan bahwa sunyi sedang diam menungguku di rumah. Aku merasakan bahwa sunyi memberikanku kebebasan saat di sekolah. Oleh karena itu, tak pernah kuingin pergi dari sekolah itu.
Taman kanak-kanak hingga sekolah dasar pun kulalui bersama mereka. Aku menumpahkan bekalku sendiri di hari pertama, datang terlambat di hari pertama, membuat keributan, marah dan tawa yang kubagi, persahabatan yang indah kulalui bersama mereka, waktu yang tak dapat dibeli. Terlalu berharga.
Tak lama aku mengalami masa berharga itu. Hanya sebentar karena waktu yang membuat semua itu berhenti. Berhenti hanya untukku saja. Waktu yang membuat semuanya harus kutangisi. Tak bisa kusalahi siapapun. Aku masih terlalu kecil untuk memberontak. Aku masih terlalu kecil untuk berdiri sendiri. Aku pindah dan tak bertemu dengan mereka beberapa tahun.
8 tahun terlalu singkat untuk dirasakan. Teman-teman baru yang dekat denganku sudah kudapat tapi masih tetap cuplikan itu datang dan pergi. Aku bertemu dengan mereka tiba-tiba. Bertemu dengan sahabat-sahabatku semasa kecil. Melalui dunia maya yang tak kuduga-duga dan akhirnyapun aku bertemu dengan mereka. Teman-teman baik ku semasa kecil.
Tak kuduga pertemuan itu begitu melekat. Bukan karena waktu yang begitu lama tapi keapaadaan yang mereka terima. Tinggal di kota itu membuat pemikiran orang-orang disitu begitu sempit sehingga membuat pemikiran merekapun begitu. Kota kecil memang sehingga membuatku mengerti. Kekuranganku karena sudah terlau lama tinggal di kota besar ini. Membuat perbedaan yang cukup besar di antara kami. 1 perbedaan kecil sederhana yang membuat semuanya begitu besar. Kubuka kekuranganku di hadapan mereka. Di hadapan sahabat-sahabat semasa kecilku.
Kupikir penolakan yang mereka berikan. Awal yang membuatku takut. Awal yang memberikan perbedaan besar. Kubuka semua tentangku. Kuceritakan aku yang ternyata bertolak belakang dengan mereka. Takut kumemulai. Berakhir dengan mereka tersenyum. Kutahu mereka tak suka tapi mereka menerima. Penerimaan yang begitu berharga. Mereka merangkul sahabat mereka dan berjalan bersamanya. Tetap seperti dulu dan tetap tertawa bersama. Membuat sebuah janji konyol diantara kami. Memutar cuplikan-cuplikan indah kami. Kami sudah dewasa dan menjadikan kekurangan itu sempurna.
Hubungan yang timbul tenggelam tidak menjadi halangan kami berjalan. Aku tau persahabatan itu timbul saat kami kecil dan pelajaran paling berharga bagiku. Indah saat mereka ternyata masih menggenggam tanganku. Sahabat memang harus bisa menerima kekurangan untuk kesempurnaan. Mereka bukan sahabat semasa kecilku tetapi sahabatku hingga hari ini, besok dan nanti.Sahabat yang paling berarti. Mereka.
Saturday, February 7, 2009
love life
Cinta itu setia, pengorbanan, kesabaran.
Tapi ga ada keikhlasan tidak ada cinta.
Cinta adalah keikhlasan.
Ikhlas menerima apapun yang terjadi.
Ikhlas menghadapi segalanya.
Ikhlas dengan semua kesetiaan.
Ikhlas dengan semua pengorbanan.
Ikhlas dengan semua kesabaran.
Ikhlas mencintai.
Ikhlas memaafkan.
Ikhlas tidak akan mendatangkan dendam.
Ikhlas pasti bersukacita.
Thanks GOD for everything has down to me for bad and good times.
Terima kasih karena Sahabatku memberikan suatu bab yang baru dalam buku ku yaitu suatu ulasan mengenai keikhlasan.
Tapi ga ada keikhlasan tidak ada cinta.
Cinta adalah keikhlasan.
Ikhlas menerima apapun yang terjadi.
Ikhlas menghadapi segalanya.
Ikhlas dengan semua kesetiaan.
Ikhlas dengan semua pengorbanan.
Ikhlas dengan semua kesabaran.
Ikhlas mencintai.
Ikhlas memaafkan.
Ikhlas tidak akan mendatangkan dendam.
Ikhlas pasti bersukacita.
Thanks GOD for everything has down to me for bad and good times.
Terima kasih karena Sahabatku memberikan suatu bab yang baru dalam buku ku yaitu suatu ulasan mengenai keikhlasan.
Monday, February 2, 2009
something affordable
Daun-daun berguguran terbawa angin tanpa arah. Arah hanyalah suatu kata ambigu yang tak bermakna yang hanya memberikan suatu perhentian. Daun menikmati hidupnya bersama angin. Berirama. Beriringan. Penuh cinta. Bebas. Awan selalu memberikan perlindungan yang paling dahsyat untuk mahluk hidup yang selalu merugikannya. Awan bebas mencintai bahkan dia bebas mencintai mahluk-mahluk yang akan membunuhnya. Indah memberikan senyum kepada pembenci. Indah memberikan perlindungan kepada perusak. Indah bisa bebas. Burung-burung terbang bebas di angkasa menanti lawannya menantang. Mengepak sayapnya memberikan kebebasan kepada yang melihatnya. Dengan gagahnya dia menyongsong mentari. Dengan sombongnya dia memamerkan sayapnya. Tiada henti. Penuh keyakinan. Mereka gembira. Mereka bernyanyi di saat matahari terbit. Mereka bebas.
Itu aku. Mereka semua adalah aku. Mereka adalah bagian diriku. Tidak ada yang sebahagia aku. Tidak ada yang sebebas aku. Aku bebas tanpa arah. Aku bebas terbang bersama angin. Aku bebas mencintai. Aku bebas menantang. Aku penuh percaya diri. Aku senang. Aku gembira. Aku bebas.
Tertawa aku. Hinanya aku. Kegilaan yang tiada taranya. Aku hanya menipumu saja. Aku bukanlah kawanan daun yang berguguran. Aku bukanlah segumpulan awan. Aku bukanlah segerombolan burung. Aku menipumu, kawan. Aku hanyalah lawan dari bebas. Aku mencari bebas tapi tak pernah kutemukan. Aku hanyalah daun yang kering. Aku adalah awan yang hitam yang hanya menimbulkan penyakit. Aku adalah burung yang sudah diburuh. Aku tak bisa tanpa arah. Aku tak bisa bebas mencintai. Aku tak bisa bebas melawan. Aku tak bisa bebas mengepakkan sayap. Aku harus berhenti dengan arah. Bebas bukanlah aku. Silahkan tertawa sepuasmu!
Itu aku. Mereka semua adalah aku. Mereka adalah bagian diriku. Tidak ada yang sebahagia aku. Tidak ada yang sebebas aku. Aku bebas tanpa arah. Aku bebas terbang bersama angin. Aku bebas mencintai. Aku bebas menantang. Aku penuh percaya diri. Aku senang. Aku gembira. Aku bebas.
Tertawa aku. Hinanya aku. Kegilaan yang tiada taranya. Aku hanya menipumu saja. Aku bukanlah kawanan daun yang berguguran. Aku bukanlah segumpulan awan. Aku bukanlah segerombolan burung. Aku menipumu, kawan. Aku hanyalah lawan dari bebas. Aku mencari bebas tapi tak pernah kutemukan. Aku hanyalah daun yang kering. Aku adalah awan yang hitam yang hanya menimbulkan penyakit. Aku adalah burung yang sudah diburuh. Aku tak bisa tanpa arah. Aku tak bisa bebas mencintai. Aku tak bisa bebas melawan. Aku tak bisa bebas mengepakkan sayap. Aku harus berhenti dengan arah. Bebas bukanlah aku. Silahkan tertawa sepuasmu!
03-04-06. 03.44am.
Aku terbangun kaget dari tidurku yg lelap. Mencari gelisah handphone temanku yang saat itu sedang kupinjam. Melihat ada beberapa pesan singkat dan beberapa panggilan tak terjawab. Semua itu berasal dari 1 orang yang dengan gelisah menanti jawabanku. Mengetik cepat sebuah pesan singkat yang seharusnya sudah kubalas dari pukul 00.00. Pesan itu berisi :
" Boooodhhhiii..... Sori baru bales. Gue tadi ketiduran.
Iya gue mau jadi pacar lo. Gue juga sayang ma lo. "
Langsung kukirim pesan itu. Kulihat pesan terkirim dan aku tersenyum karenanya. Beberapa menit kemudian kudengar ada sebuah pesan masuk. Kuambil handphone dan kubuka pesan itu. Pesan itu ternyata dari Bodhi. Pesan itu berisi :
" Makasi ya lo mau jadi pacar gue. Gue sayang ma lo.
Lo tidur aja lagi. Good nite."
Tersenyum kumembacanya dan langsung kubalas :
" Oke. Gue tidur dulu ya. Lo juga tidur ya.
Nite nite."
Pesan terkirim. Langsung kumemejamkan mata dan tertidur lelap. Segaris tipis senyuman mengungkapkan hatiku yang sedang bergemuruh. Indah.
Pesan singkat. Seseorang yang menungguku untuk menjawab perasaan hatinya. Dia mengungkapkan saat kami sedang berjalan berdua. Bukan suatu pengungkapan yang romantis tetapi suatu yang berarti. Dia mengatakannya di depan mataku. Mengatakan dengan berani. Meminta tanpa memaksa. Menanyakan dengan tulus.
Aku memulai sesuatu lembaran baru menutup rapat-rapat lembar sebelumnya. Aku dan dia berkomitmen untuk memulai dan menghadapi semuanya berdua. Aku belajar untuk beradaptasi dengan kebersamaan. Dia mengajariku tentang kebersamaan. Dia memberikan keyakinan kepadaku. Aku mencintainya. Aku rasakan itu dan pertama kali aku melihat hal itu begitu nyata.
Kebahagiaan begitu cepat berlalu. Kebersamaan terlalu cepat beradaptasi. Semua itu meninggalkan bekas yang dalam yang sangat sukar hilang. Bukan seperti jejak kaki yang dapat dihapus oleh kawanan ombak dan gerombolan pasir. Bekas itu begitu nyata lebih nyata dari yang kurasalan sebelumnya.
Satu tahun 4 bulan. 5 Agustus 2007.
Tak lama hal itu singgah. Terlalu cepat sehingga membuatku mencoba untuk menahannya. Terlalu cepat membuatku semakin haus dan lapar. Kuingin kebahagiaan itu. Kuingin semuanya kembali. 1 Sahabat tetapi manusia yang memisahkan. Terlalu besar jurang yang harus kami lalui. Terlalu luas laut untuk kami sebrang. Terlalu tinggi gunung untuk kami naiki. Terlalu hebat badai itu. Terlalu bergemuruh ombak itu. Maaf tak bisa kulalui itu semua dan aku yakin kamupun tak bisa.
Kita harus menggunting paksa tali yang mengikatkan kita.
Kita harus membakar semua hadiah itu.
Kita harus melupakan dan terus melangkah.
Hampir 2 tahun.
Bekas itu belum hilang.
Gunting itu tumpul. Tali itu tidak benar-benar lepas.
Hadiah itu belum habis terbakar.
Tak hanya kata melupakan dapat mengobatinya.
Dengan melangkah tidak dapat menghapus jejakmu.
Aku disini terduduk manis melihat hadiah yang tak pernah hangus terbakar.
Aku mencoba mengikatkan tali itu tapi sudah terlalu tipis untuk dikaitkan.
Aku selalu setia menemani jejak langkahmu yang tertinggal.
Bekas itu aku kunci rapat. Tak ingin bekas itu hilang.
Belum kutemukan kunci yang dapat membukanya dan menutupnya bersih.
Walaupun bukan dia tetapi aku ingin dia.
Selamanya dia berada di jejak itu.
Selamanya menemaniku menatap hadiah yang telah hangus terbakar.
Selamanya terikat oleh tali itu.
Aku ingin melewatinya sama kamu. Selamanya.
Selamanya. Selamanya. Selamanya.
* Thanks for the inspiration
Aku terbangun kaget dari tidurku yg lelap. Mencari gelisah handphone temanku yang saat itu sedang kupinjam. Melihat ada beberapa pesan singkat dan beberapa panggilan tak terjawab. Semua itu berasal dari 1 orang yang dengan gelisah menanti jawabanku. Mengetik cepat sebuah pesan singkat yang seharusnya sudah kubalas dari pukul 00.00. Pesan itu berisi :
" Boooodhhhiii..... Sori baru bales. Gue tadi ketiduran.
Iya gue mau jadi pacar lo. Gue juga sayang ma lo. "
Langsung kukirim pesan itu. Kulihat pesan terkirim dan aku tersenyum karenanya. Beberapa menit kemudian kudengar ada sebuah pesan masuk. Kuambil handphone dan kubuka pesan itu. Pesan itu ternyata dari Bodhi. Pesan itu berisi :
" Makasi ya lo mau jadi pacar gue. Gue sayang ma lo.
Lo tidur aja lagi. Good nite."
Tersenyum kumembacanya dan langsung kubalas :
" Oke. Gue tidur dulu ya. Lo juga tidur ya.
Nite nite."
Pesan terkirim. Langsung kumemejamkan mata dan tertidur lelap. Segaris tipis senyuman mengungkapkan hatiku yang sedang bergemuruh. Indah.
Pesan singkat. Seseorang yang menungguku untuk menjawab perasaan hatinya. Dia mengungkapkan saat kami sedang berjalan berdua. Bukan suatu pengungkapan yang romantis tetapi suatu yang berarti. Dia mengatakannya di depan mataku. Mengatakan dengan berani. Meminta tanpa memaksa. Menanyakan dengan tulus.
Aku memulai sesuatu lembaran baru menutup rapat-rapat lembar sebelumnya. Aku dan dia berkomitmen untuk memulai dan menghadapi semuanya berdua. Aku belajar untuk beradaptasi dengan kebersamaan. Dia mengajariku tentang kebersamaan. Dia memberikan keyakinan kepadaku. Aku mencintainya. Aku rasakan itu dan pertama kali aku melihat hal itu begitu nyata.
Kebahagiaan begitu cepat berlalu. Kebersamaan terlalu cepat beradaptasi. Semua itu meninggalkan bekas yang dalam yang sangat sukar hilang. Bukan seperti jejak kaki yang dapat dihapus oleh kawanan ombak dan gerombolan pasir. Bekas itu begitu nyata lebih nyata dari yang kurasalan sebelumnya.
Satu tahun 4 bulan. 5 Agustus 2007.
Tak lama hal itu singgah. Terlalu cepat sehingga membuatku mencoba untuk menahannya. Terlalu cepat membuatku semakin haus dan lapar. Kuingin kebahagiaan itu. Kuingin semuanya kembali. 1 Sahabat tetapi manusia yang memisahkan. Terlalu besar jurang yang harus kami lalui. Terlalu luas laut untuk kami sebrang. Terlalu tinggi gunung untuk kami naiki. Terlalu hebat badai itu. Terlalu bergemuruh ombak itu. Maaf tak bisa kulalui itu semua dan aku yakin kamupun tak bisa.
Kita harus menggunting paksa tali yang mengikatkan kita.
Kita harus membakar semua hadiah itu.
Kita harus melupakan dan terus melangkah.
Hampir 2 tahun.
Bekas itu belum hilang.
Gunting itu tumpul. Tali itu tidak benar-benar lepas.
Hadiah itu belum habis terbakar.
Tak hanya kata melupakan dapat mengobatinya.
Dengan melangkah tidak dapat menghapus jejakmu.
Aku disini terduduk manis melihat hadiah yang tak pernah hangus terbakar.
Aku mencoba mengikatkan tali itu tapi sudah terlalu tipis untuk dikaitkan.
Aku selalu setia menemani jejak langkahmu yang tertinggal.
Bekas itu aku kunci rapat. Tak ingin bekas itu hilang.
Belum kutemukan kunci yang dapat membukanya dan menutupnya bersih.
Walaupun bukan dia tetapi aku ingin dia.
Selamanya dia berada di jejak itu.
Selamanya menemaniku menatap hadiah yang telah hangus terbakar.
Selamanya terikat oleh tali itu.
Aku ingin melewatinya sama kamu. Selamanya.
Selamanya. Selamanya. Selamanya.
* Thanks for the inspiration
Saturday, January 31, 2009
for only an hour
I met her.
Suatu janji yang perlahan terukir saat pertama kali membaca bukunya. Suatu janji yang baru saja aku langgar. Tidak seharusnya aku bertemu dengannya dengan cara seperti itu.
Kekikukan terjadi. Banyak ingin kuungkap tapi tak ada yang keluar. Hanya 2-3 kata terucap membuat kebingungan. Tak ada tawa dan senyum di bibirku. Hanya ingin semua itu cepat selesai. Membuatku membungkuk dengan murah.
" Maaf, bukunya ketinggalan. "
" Ngga, disitu aja. "
" Iya. "
1 hal yang baru kusadari. Kubiarkan dia menorehkan langsung di halaman paling terakhir di matahariku. Halaman yang penuh dengan hidup dan mimpiku. Halaman yang mengisi hidupku sejauh ini. Aku melarangnya membuka halaman depan tetapi membiarkannya masuk ke dalam duniaku dan matahariku. Mengisinya dengan warna yang sama dengan yang ada di halaman itu. Dia benar-benar masuk di dalamnya. Ke dalam hidupku.
Ada 4 kata yang dia tulis : " Have a great life "
Entah apa yang dia pikir dengan menulis itu. Mengapa begitu masuk ke dalamnya. Mengapa begitu menyatu. Apa memang itu suatu tulisan hafalan yang dia tuliskan ke semuanya? Masih tak mengerti dengan 4 kata itu. Dia sepertinya bisa membaca sesuatu dari segelintir sesuatu disana. Apa dengan 4 kata itu bisa membuatku mendapatkan pernyataan dari pertanyaan 4 kata itu? 4 kata yang masih menjadi pertanyaan untukku tapi sangat menyatu dengan segalanya.
Aku ingin tau dari dia. " Have a great life ".
Terima Kasih untuk 4 kata itu. Baru dia yang memberikan kata-kata itu untukku.
Suatu janji yang perlahan terukir saat pertama kali membaca bukunya. Suatu janji yang baru saja aku langgar. Tidak seharusnya aku bertemu dengannya dengan cara seperti itu.
Kekikukan terjadi. Banyak ingin kuungkap tapi tak ada yang keluar. Hanya 2-3 kata terucap membuat kebingungan. Tak ada tawa dan senyum di bibirku. Hanya ingin semua itu cepat selesai. Membuatku membungkuk dengan murah.
" Maaf, bukunya ketinggalan. "
" Ngga, disitu aja. "
" Iya. "
1 hal yang baru kusadari. Kubiarkan dia menorehkan langsung di halaman paling terakhir di matahariku. Halaman yang penuh dengan hidup dan mimpiku. Halaman yang mengisi hidupku sejauh ini. Aku melarangnya membuka halaman depan tetapi membiarkannya masuk ke dalam duniaku dan matahariku. Mengisinya dengan warna yang sama dengan yang ada di halaman itu. Dia benar-benar masuk di dalamnya. Ke dalam hidupku.
Ada 4 kata yang dia tulis : " Have a great life "
Entah apa yang dia pikir dengan menulis itu. Mengapa begitu masuk ke dalamnya. Mengapa begitu menyatu. Apa memang itu suatu tulisan hafalan yang dia tuliskan ke semuanya? Masih tak mengerti dengan 4 kata itu. Dia sepertinya bisa membaca sesuatu dari segelintir sesuatu disana. Apa dengan 4 kata itu bisa membuatku mendapatkan pernyataan dari pertanyaan 4 kata itu? 4 kata yang masih menjadi pertanyaan untukku tapi sangat menyatu dengan segalanya.
Aku ingin tau dari dia. " Have a great life ".
Terima Kasih untuk 4 kata itu. Baru dia yang memberikan kata-kata itu untukku.
Friday, January 30, 2009
2 Januari 2009, 02.16 AM
" Biarkan aku mempunyai damaiku sendiri"
2 hari di 2009. Biasa. Memulai suatu buku baru.
Belum ada kata pengantar. Daftar isi yang akan terus bertambah dan berkurang.
Living in this world. Full of perceptions and judges.
Wanna out from that world. Living in my own world.
I don't care about politics and those thing called "ideology".
I live on what i believe in.
" Menjalankan di saat terang
Merasakan di saat gelap
Terang memberikan kekelaman
Gelap membawa cahaya "
Terus melihat terang membuat tidak bisa melihat gelap.
Terus melihat gelap membuat tidak bisa melihat terang.
Harus memilih antara kedua hal itu.
Tak ada yang samar. Tak ada yang abu-abu.
Membiarkan oranglain tampil apa adanya membuatku apa adanya.
Transparan. Indah saat orang-orang tak perlu memakai topeng dan tameng yang menjadi penutp. Bahkan untuk cinta sekalipun. Bahkan di hadapan Tuhan sekalipun.
Tuhan sahabatku, keluargaku, segalaku.
Aku tak ingin jadi pengikut-Mu ataupun umat-Mu. Aku ingin berjalan di samping-Mu. Kita saling merangkul dan bercakap-cakap. Saat aku lelah, Engkau menggedong aku dan saat Engkau lelah, aku menggendong-Mu. Kita saling percaya. Engkau bercerita kepadaku dan akupun begitu. Tawa dan sedih bersama.
Mencoba membuat segalanya lebih mungkin. Lebih masuk ke dalam jiwa.
" Hanya ingin diam. Hening
Merasakan kesendirianku
Aku mencintai keheningan
Aku nyaman dengan diam
Aku menikmati sendiriku "
2 hari di 2009. Biasa. Memulai suatu buku baru.
Belum ada kata pengantar. Daftar isi yang akan terus bertambah dan berkurang.
Living in this world. Full of perceptions and judges.
Wanna out from that world. Living in my own world.
I don't care about politics and those thing called "ideology".
I live on what i believe in.
" Menjalankan di saat terang
Merasakan di saat gelap
Terang memberikan kekelaman
Gelap membawa cahaya "
Terus melihat terang membuat tidak bisa melihat gelap.
Terus melihat gelap membuat tidak bisa melihat terang.
Harus memilih antara kedua hal itu.
Tak ada yang samar. Tak ada yang abu-abu.
Membiarkan oranglain tampil apa adanya membuatku apa adanya.
Transparan. Indah saat orang-orang tak perlu memakai topeng dan tameng yang menjadi penutp. Bahkan untuk cinta sekalipun. Bahkan di hadapan Tuhan sekalipun.
Tuhan sahabatku, keluargaku, segalaku.
Aku tak ingin jadi pengikut-Mu ataupun umat-Mu. Aku ingin berjalan di samping-Mu. Kita saling merangkul dan bercakap-cakap. Saat aku lelah, Engkau menggedong aku dan saat Engkau lelah, aku menggendong-Mu. Kita saling percaya. Engkau bercerita kepadaku dan akupun begitu. Tawa dan sedih bersama.
Mencoba membuat segalanya lebih mungkin. Lebih masuk ke dalam jiwa.
" Hanya ingin diam. Hening
Merasakan kesendirianku
Aku mencintai keheningan
Aku nyaman dengan diam
Aku menikmati sendiriku "
Thursday, January 29, 2009
seseorang
Malam yang seharusnya indah. Malam perpisahan yang patut dikenang.
Seseorang yang cantik, anggun, baik, sombong, angkuh, yang sangat kucintai sekaligus kubenci.
Seseorang yang menghidupiku, yang merawatku, yang memberiku nafas, orang pertama yang mendengar tangisan pertamaku, yang memberikan penyesalan.
Seseorang yang mampu membuatku melayang dan terjatuh sekaligus.
Seseorang yang terlalu mahal untuk menunduk dan membungkuk.
Seseorang yang membentuk karakterku.
Seseorang tempat aku mengadu, menangis, bercerita dan orang yang kuumpat.
Mencoba kuikhlas tapi tak ada senyum.
Memberikan yang terbaik tapi hanya menganggapku sama.
Mengerti aku, mengapa mereka yang sedarah denganku menjadi kehilangan kendali dalam kapalnya hingga melenceng dari jalurnya dan menjadi sebuah ceret yang meletup-letup. Mengumpat aku kepada mereka, ternyata aku sama dengan mereka.
Seseorang yang membangunkan aku dengan teriakannya dalam mimpi indahku, memaksaku untuk hidup bersahabat dengan mimpi buruknya.
Waktu begitu cepat.
Ingin mengulang waktu di saat semuanya begitu indah, disaat aku masih tertidur lelap dan tak ada yang membangunkan aku. Membiarkan aku bermimpi indah sampai kematangan datang kepadaku dan berkata, " Dia sudah siap". Semuanya seperti bergilir. Mereka dihampiri saat mereka bersama dengan kedewasaan yang pas. Tidak pas kematangan berbicara kepadaku sehingga tidak ada tawar menawar dengan kedewasaan. Membuatku terdiam mendengar pembicaraan itu. Membisukan pikiran dan jiwaku. Menekan tombol pause kepada hidupku, memainkannya sehingga membuatku berjalan dalam permainannya yg hanya mempermainkanku.
Goresan demi goresan yang tercoreh membuat semua itu harus dijahit tetapi jahitan itu tidak pernah kering dan akan membekas. Setiap amarah yang timbul tidak pernah terselesaikan membuat semuanya membengkak dan siap diledakkan. Entah siapa yang selalu bisa membedakan kabel yang dapat mematikan bom itu. Menunjuk dirinya masing-masing. Tidak bisa mengerti karena memang semuanya sudah berubah.
Tak ada senyumnya. Tak ada pelukan hangatnya. Tak ada belaian lembutnya. Tak ada kecupan yang brarti. Tak ada hal yang ada di mimpiku.
Tak bisa membedakan kenyataan dan mimpi. Yang mana kenyataan?
Seseorang yang cantik, anggun, baik, sombong, angkuh, yang sangat kucintai sekaligus kubenci.
Seseorang yang menghidupiku, yang merawatku, yang memberiku nafas, orang pertama yang mendengar tangisan pertamaku, yang memberikan penyesalan.
Seseorang yang mampu membuatku melayang dan terjatuh sekaligus.
Seseorang yang terlalu mahal untuk menunduk dan membungkuk.
Seseorang yang membentuk karakterku.
Seseorang tempat aku mengadu, menangis, bercerita dan orang yang kuumpat.
Mencoba kuikhlas tapi tak ada senyum.
Memberikan yang terbaik tapi hanya menganggapku sama.
Mengerti aku, mengapa mereka yang sedarah denganku menjadi kehilangan kendali dalam kapalnya hingga melenceng dari jalurnya dan menjadi sebuah ceret yang meletup-letup. Mengumpat aku kepada mereka, ternyata aku sama dengan mereka.
Seseorang yang membangunkan aku dengan teriakannya dalam mimpi indahku, memaksaku untuk hidup bersahabat dengan mimpi buruknya.
Waktu begitu cepat.
Ingin mengulang waktu di saat semuanya begitu indah, disaat aku masih tertidur lelap dan tak ada yang membangunkan aku. Membiarkan aku bermimpi indah sampai kematangan datang kepadaku dan berkata, " Dia sudah siap". Semuanya seperti bergilir. Mereka dihampiri saat mereka bersama dengan kedewasaan yang pas. Tidak pas kematangan berbicara kepadaku sehingga tidak ada tawar menawar dengan kedewasaan. Membuatku terdiam mendengar pembicaraan itu. Membisukan pikiran dan jiwaku. Menekan tombol pause kepada hidupku, memainkannya sehingga membuatku berjalan dalam permainannya yg hanya mempermainkanku.
Goresan demi goresan yang tercoreh membuat semua itu harus dijahit tetapi jahitan itu tidak pernah kering dan akan membekas. Setiap amarah yang timbul tidak pernah terselesaikan membuat semuanya membengkak dan siap diledakkan. Entah siapa yang selalu bisa membedakan kabel yang dapat mematikan bom itu. Menunjuk dirinya masing-masing. Tidak bisa mengerti karena memang semuanya sudah berubah.
Tak ada senyumnya. Tak ada pelukan hangatnya. Tak ada belaian lembutnya. Tak ada kecupan yang brarti. Tak ada hal yang ada di mimpiku.
Tak bisa membedakan kenyataan dan mimpi. Yang mana kenyataan?
Friday, January 2, 2009
Kisah Klasik
sama. berubah.
tidak bisa merasakan itu semua lagi dan mungkin belum saatnya. obrolan panjang tetapi singkat. tampaknya aku butuh seorang psikiater. aku membutuhkan seseorang yg dapat menolongku. aku runtuh. terkikis pasrah. aku jatuh. aku berdamai dengan damai tetapi sepertinya damai belum kurasakan. aku senang. aku takut. aku berdamai dengan damai tetapi semakin banyak pertanyaan aku dengan damai. aku sibuk dengan sendiriku, dengan duniaku. terlalu sibuk. menangis tetapi tak pernah ada yg mengerti mengapa. tertawa tetapi tak ada yang merasa lucu. berbicara tetapi tidak ada yang mengerti. aku bertanya tak ada yang bisa menjawab.
Ketidak sempurnaan membuat manusia bergantung. Ketidakberdayaan membuat manusia meminta tlng. Ketiadaan membuat manusia mencari. Kekurangan membuat manusia berusaha.
Manusia memang saling membutuhkan tetapi bagaimana oranglain tidak ada yang mengerti apa yang aku butuhkan. Aku membutuhkan lebih dari seorang pendengar. Aku membutuhkan lebih dari seorang penasehat. Aku membutuhkan lebih dari kebenaran. Aku membutuhkan lebih dari pertanyaan. Aku membutuhkan lebih dari pernyataan. Aku sangat membutuhkan jawaban dan kejujuran. Jawaban dari ketidaksempurnaan, ketidakberdayaan, ketiadaan, kekurangan. Jawaban dari semua ego umat manusia yang pada akhirnya hanya bisa diam. Kejujuran dari semuanya.
Jam 05 pagi skrg dan aku tak bisa tidur hanya karena perasaan konyol ini. Akhirnya aku dapatkan apa itu. Aku tau apa itu. 1 jam obrolan yang sangat berarti ternyata. Bukan hanya brdamai dengan damai tetapi mngerti perasaan ini. Perasaan yang terjawab saat dia bertanya,"Setelah sebulan kita dieman, lo seneng ga si denger suara gue?". Aku terdiam dan menjawab,"Gue senengla pasti". Jawaban datar kami sepakat. Kami terwata karena kedataran yang aku buat. Entah tawa apa. Tawa mengagetkan hening mungkin. Tawa abu-abu.
Kami terlalu naif. Kami terlalu munafik. Hidup di dalam topeng dan tameng. Aku berusaha membuka itu semua. Aku membukanya. Aku memberitahunya. Aku berbicara dengannya bukan dari pikiranku tetapi akhirnya dari hatiku. Tak semua karena masih ada batasan itu yang aku tak tau apa. Aku berkata,"Kita damai" tetapi lagi-lagi topeng itu yang kupakai. "Kita damai" tetapi masih ada batasan itu. "Kita damai" tetapi hatiku tidak berdamai. "Kita damai" tetapi jiwaku gelisah. Aku masih sibuk dengan pikiranku. Aku sibuk tetapi dia diam. Aku berbelok dan dia hanya mengikuti bukan merangkulku. Aku diam, dia sibuk agar aku ikut bergerak. Entah yang mana siklusnya. Aku bingung untuk bergerak. Mungkin memang tidak ada siklus.
Berusaha kumelepas ego itu. Berusaha kumelepas keomongkosongan itu tapi tak bisa. Berusaha sekuat tenaga. Benar-benar berusaha sekeras mungkin. Bergulat aku dengan diri ini.
1 yang kuungkapkan. 1 mewakili segalanya. "Kita berdamai tetapi tidak akan pernah menjadi seseorang untuk kita sendiri lagi". Sudah kuterima tak ada sapaan lagi. Tak ada ketergantungan lagi. Tak ada cerita yang berarti lagi. Tak ada tawa dan sedih itu lagi. Tak ada percaya lagi.Tak ada hati seorang sahabat. Tak ada senyuman sahabat.
Aku egois. Memang. Aku naif dan munafik. Aku iyakan semua perkataanmu. Aku iyakan semua yang kamu rasakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan.
Aku yakinkan hanya untuk damai itu kembali padaku. Aku tak peduli ada damai itu untukmu atau tidak. Aku tak peduli lagi tapi aku peduli. Ternyata aku peduli. Ingin berteriak aku masih peduli pada sahabat kecilku. Tertawa girang bahwa aku peduli. Aku peduli.
Waktu untuk berpikir selama sebulan tak ada kontak sama sekali. Setelah aku dan dia sepakat menjadi seperti yang dulu. Tetap aku tak bisa. Entah perasaan apa itu tapi perasaan itu bukan perasaan indah. A fake plastic. Semua memori indah seperti sudah siap untuk berabu. Semua memori tak ingin kuulang tapi akan aku ingat. Akan kurindukan. Selalu.
Lebih baik kamu pergi, damaiku. Sahabat kecilku. Biarkan aku mempunyai damaiku sendiri. Hanya biarkan aku sendiri. Diam. Hening. Mencoba berdiri dari rangkakan. Mencoba bertahan di setiap perubahan. Mencoba mengikhlaskan sahabat kecilku pergi. Membiarkan sahabat kecilku bahagia dengan damainya.
tidak bisa merasakan itu semua lagi dan mungkin belum saatnya. obrolan panjang tetapi singkat. tampaknya aku butuh seorang psikiater. aku membutuhkan seseorang yg dapat menolongku. aku runtuh. terkikis pasrah. aku jatuh. aku berdamai dengan damai tetapi sepertinya damai belum kurasakan. aku senang. aku takut. aku berdamai dengan damai tetapi semakin banyak pertanyaan aku dengan damai. aku sibuk dengan sendiriku, dengan duniaku. terlalu sibuk. menangis tetapi tak pernah ada yg mengerti mengapa. tertawa tetapi tak ada yang merasa lucu. berbicara tetapi tidak ada yang mengerti. aku bertanya tak ada yang bisa menjawab.
Ketidak sempurnaan membuat manusia bergantung. Ketidakberdayaan membuat manusia meminta tlng. Ketiadaan membuat manusia mencari. Kekurangan membuat manusia berusaha.
Manusia memang saling membutuhkan tetapi bagaimana oranglain tidak ada yang mengerti apa yang aku butuhkan. Aku membutuhkan lebih dari seorang pendengar. Aku membutuhkan lebih dari seorang penasehat. Aku membutuhkan lebih dari kebenaran. Aku membutuhkan lebih dari pertanyaan. Aku membutuhkan lebih dari pernyataan. Aku sangat membutuhkan jawaban dan kejujuran. Jawaban dari ketidaksempurnaan, ketidakberdayaan, ketiadaan, kekurangan. Jawaban dari semua ego umat manusia yang pada akhirnya hanya bisa diam. Kejujuran dari semuanya.
Jam 05 pagi skrg dan aku tak bisa tidur hanya karena perasaan konyol ini. Akhirnya aku dapatkan apa itu. Aku tau apa itu. 1 jam obrolan yang sangat berarti ternyata. Bukan hanya brdamai dengan damai tetapi mngerti perasaan ini. Perasaan yang terjawab saat dia bertanya,"Setelah sebulan kita dieman, lo seneng ga si denger suara gue?". Aku terdiam dan menjawab,"Gue senengla pasti". Jawaban datar kami sepakat. Kami terwata karena kedataran yang aku buat. Entah tawa apa. Tawa mengagetkan hening mungkin. Tawa abu-abu.
Kami terlalu naif. Kami terlalu munafik. Hidup di dalam topeng dan tameng. Aku berusaha membuka itu semua. Aku membukanya. Aku memberitahunya. Aku berbicara dengannya bukan dari pikiranku tetapi akhirnya dari hatiku. Tak semua karena masih ada batasan itu yang aku tak tau apa. Aku berkata,"Kita damai" tetapi lagi-lagi topeng itu yang kupakai. "Kita damai" tetapi masih ada batasan itu. "Kita damai" tetapi hatiku tidak berdamai. "Kita damai" tetapi jiwaku gelisah. Aku masih sibuk dengan pikiranku. Aku sibuk tetapi dia diam. Aku berbelok dan dia hanya mengikuti bukan merangkulku. Aku diam, dia sibuk agar aku ikut bergerak. Entah yang mana siklusnya. Aku bingung untuk bergerak. Mungkin memang tidak ada siklus.
Berusaha kumelepas ego itu. Berusaha kumelepas keomongkosongan itu tapi tak bisa. Berusaha sekuat tenaga. Benar-benar berusaha sekeras mungkin. Bergulat aku dengan diri ini.
1 yang kuungkapkan. 1 mewakili segalanya. "Kita berdamai tetapi tidak akan pernah menjadi seseorang untuk kita sendiri lagi". Sudah kuterima tak ada sapaan lagi. Tak ada ketergantungan lagi. Tak ada cerita yang berarti lagi. Tak ada tawa dan sedih itu lagi. Tak ada percaya lagi.Tak ada hati seorang sahabat. Tak ada senyuman sahabat.
Aku egois. Memang. Aku naif dan munafik. Aku iyakan semua perkataanmu. Aku iyakan semua yang kamu rasakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan.
Aku yakinkan hanya untuk damai itu kembali padaku. Aku tak peduli ada damai itu untukmu atau tidak. Aku tak peduli lagi tapi aku peduli. Ternyata aku peduli. Ingin berteriak aku masih peduli pada sahabat kecilku. Tertawa girang bahwa aku peduli. Aku peduli.
Waktu untuk berpikir selama sebulan tak ada kontak sama sekali. Setelah aku dan dia sepakat menjadi seperti yang dulu. Tetap aku tak bisa. Entah perasaan apa itu tapi perasaan itu bukan perasaan indah. A fake plastic. Semua memori indah seperti sudah siap untuk berabu. Semua memori tak ingin kuulang tapi akan aku ingat. Akan kurindukan. Selalu.
Lebih baik kamu pergi, damaiku. Sahabat kecilku. Biarkan aku mempunyai damaiku sendiri. Hanya biarkan aku sendiri. Diam. Hening. Mencoba berdiri dari rangkakan. Mencoba bertahan di setiap perubahan. Mencoba mengikhlaskan sahabat kecilku pergi. Membiarkan sahabat kecilku bahagia dengan damainya.
Thursday, January 1, 2009
alfa dan omega
alfa sebagai permulaan.
omega sebagai akhir.
Satu buku lagi telah selesai dan akan bertambah buku yang lain lagi. Memulai sesuatu tidak mudah dan berusaha mengakhiri dgn luar biasa.
Resolusi sebagai kata pengantar.
Impian sebagai daftar isi.
" selamat menulis buku baru "
omega sebagai akhir.
Satu buku lagi telah selesai dan akan bertambah buku yang lain lagi. Memulai sesuatu tidak mudah dan berusaha mengakhiri dgn luar biasa.
Resolusi sebagai kata pengantar.
Impian sebagai daftar isi.
" selamat menulis buku baru "
Monday, December 29, 2008
segelas kopi hitam tanpa gula
Once brewed, coffee may be presented in a variety of ways. Drip brewed, percolated or French pressed/cafetière coffee may be served with no additives or sugar (colloquially known as black) , or with either milk, cream, or both. When served cold, it is called iced coffee.
Apa rasanya?? Bagaimana merasakannya??
Kita takut untuk merasakannya karena hitam kelam dan akan persepsi orang ttg itu. Terlalu banyak persepsi orang tentang kopi. Bagiku, segelas kopi tanpa gula itu mantap.
Pahit. Hambar. Racun. Nikmat. Berbagai persepsi datang yang membuat kita semakin mengecap.
Pahit dan nikmatnya kopi bergantung dari kita sendiri. Terlalu banyak pemanis yang menjadi pengecoh dari rasa asli kopi itu sendiri. Orang mengatakan kopi itu pahit karena dia belum mendapatkan kenikmatan dari kopi itu. Orang mengatakan kopi itu manis karena dia belum jatuh ke dalam kepahitan itu.
Tak kupungkiri bahwa rasa kopi itu pahit tetapi makna dari kopi itu bukan hanya pahit tapi banyak makna dan rasa dari itu semua. Bukan hanya mengenai segelas kopi hitam tanpa gula saja tetapi sesuatu dibalik itu semua. Sesuatu yang lebih.
Temanku berkata bahwa saat dia bercemin dia selalu bertanya kepada cermin,"apakah yang terpantul cermin itu aku?" dan setiap orang akan menjawab,"ya itu elo la!". Bukan itu yang sebenarnya dia tanyakan. Dia bertanya lebih dari itu. Hanya 1 kalimat saja mempunyai banyak makna di dalamnya. Cermati baik-baik pertanyaan itu.
Saat aku benar-benar bercermin aku melihat diriku dan jiwaku. Aku percaya itu aku walaupun aku hanya melihat diriku sebatas cermin. Pertanyaan yang terus terlintas, "Apa yang telah aku lakukan? Apa ini yang aku mau? Apa ini jalan yang tepat? Apa ini diriku?" dan begitu banyak pertanyaan yang terlintas hanya karna 1 pertanyaan yaitu, "Apakah itu aku?". Bercerminlah dan tanya hal yang sama kepada cermin. Apabila kamu tau jawabannya beritau aku karena untukku, pertanyaan itu tak akan pernah ada jawabannya.
Seperti segelas kopi hitam tanpa gula. Aku tidak hanya membahas segelas kopi hitam tanpa gula. Aku ulangi sekali lagi ada sesuatu yang lebih dari 5 kata itu. Sesuatu yang mempunyai makna sangat dalam dari apa yang kita rasakan selama ini. Sesuatu yang benar-benar lebih dari banyak kata.
Aku mencium aromanya, aku memimumnya dan aku merasakannya. Tak jauh berbeda dengan sebuah cermin, apabila kita benar-benar melihat, akan begitu banyak pertanyaan dan makna. Seperti segelas kopi hitam tanpa gula yang apabila kita benar-benar merasakannya, akan banyak persepsi dan rasa yang timbul.
Bagaimana karakter dari Tuhan? begitu banyak persepsi yang orang buat mengenai Tuhan. Terlalu banyak. Sehingga persepsi itu timbul sendiri di pikiran kita menjadikan Tuhan hanya sebatas pemikiran kita. Hanya Tuhan sendiri yang tau bagaimana karakternya. Tuhan itu tetap suatu misteri terbesar bagi semua mahluk ciptaanNya. Mungkin terlalu jauh untuk membahas ttg Tuhan. Hal itu sama saja apabila kita menanyakan mengenai karakter dari seorang manusia atau seekor binatang. Setiap orang mempunyai pandangan tentang hal itu. Mungkin ada pengajaran mengenai karakter manusia dan pembahasan mengenai mahluk hidup lainnya tetapi yang perlu kita ketahui, mereka mempelajari hanya kulitnya saja tetap yang paling mengetahui karakter dari suatu mahluk/benda adalah mahluk/benda itu sendiri.
Banyak persepsi dari segelas kopi hitam tanpa gula. Persepsi setelah kita melihatnya dan persepsi setelah kita mengecapnya. Tidak ada persepsi yang salah atau benar karena itu semua hanya pembenaran dari sebuah rasa dan makna kopi itu sendiri. Dan yang tau rasa dan makna itu sendiri adalah kopi hitam tanpa gula itu sendiri.
Suatu kesederhanaan simpel yang dibuat segelas kopi hitam tanpa gula. Gula seperti pengecoh dari rasa asli kopi itu sendiri. Yang kita rasakan bukan kopi tapi gulanya. Pernahkah kita menerima kopi yang pahit itu apa adanya? Saat kita tau kopi itu pahit, kita bersumpah untuk tidak meminumnya dan mulai berpersepsi.
Setiap orang mulai berpersepsi dengan apa yang ada di dekatnya dan bahkan untuk dirinya sendiri. Suatu pembenaran untuk dirinya sendiri akan hal yang dia sukai ato dia tidak sukai. Orang berlomba-lomba untuk memberikan pemanis pada dirinya. Berlomba-lomba mencari pemanis itu hanya untuk kenikmatan lain tanpa melihat apa yang ada di dalamnya. Pemanis. Mengecoh rasa kopi hitam itu sendiri. Mengapa kita tidak mencoba menerima apa adanya rasa kopi hitam tanpa gula itu? Mungkin kita terlalu terlena dengan pemanis itu.
Segelas kopi hitam tanpa gula untukku adalah asli. Awal yang buruk tentunya saat pertama kali mencoba segelas kopi hitam tanpa gula. Kuambil gula dan mulai memasukkannya ke dalam segelas kopi itu. Bukan kenikmatan yang kudapatkan dan sungguh berbeda rasanya. Entah mengapa tetap kupesan kopi itu di hari-hari berikutnya. Telah kusiapkan diriku untuk meminum kopi pahit itu dan entah sejak kapan ada sesuatu yang alami di dalam kepahitan itu. Sesuatu berbeda yang kurasakan. Ada manis di dalam pahit itu. Ada pelajaran berharga di setiap kepahitan yang terjadi. Ada makna indah di setiap kepahitan yang ada. Pahit tetapi manis.
Segelas kopi hitam tanpa gula. Hidup adalah kopi itu dan gula adalah pengecohnya. Dibalik 2 makna kata itu ada 1 yang paling menentukan yaitu keinginan. Keinginan untuk membuat kopi itu pahit atau manis. Saat kamu merasa takut karena pahit yang orang-orang katakan, kamu mulai menambahkan gula agar kamu tidak merasakan pahit itu dan ada saatnya kamu mulai berani mengecap kepahitan dari kopi itu. Panas atau dingin kopi itu akan tetap sama rasanya.
Segelas kopi hitam tanpa gula. Hanya hitam pekat. Pahit. Apa itu benar-benar rasa kopi itu? Apa benar-benar itu rasanya? Rasakan dan nikmatilah!
Rasa pahit kopi itu tidak akan pernah hilang sampai kita tertawa karenanya, tertawa girang bahwa akhirnya kita menemukan manis di dalamnya. Manis tanpa pemanis. Murni tanpa buatan. Saat kita mulai menerima pahit kopi itu, kita akan mulai menyadari betapa manisnya pahit yang diberikan.
Apa arti segelas kopi tanpa gula untukmu? Pikirkan.
Apa rasanya?? Bagaimana merasakannya??
Kita takut untuk merasakannya karena hitam kelam dan akan persepsi orang ttg itu. Terlalu banyak persepsi orang tentang kopi. Bagiku, segelas kopi tanpa gula itu mantap.
Pahit. Hambar. Racun. Nikmat. Berbagai persepsi datang yang membuat kita semakin mengecap.
Pahit dan nikmatnya kopi bergantung dari kita sendiri. Terlalu banyak pemanis yang menjadi pengecoh dari rasa asli kopi itu sendiri. Orang mengatakan kopi itu pahit karena dia belum mendapatkan kenikmatan dari kopi itu. Orang mengatakan kopi itu manis karena dia belum jatuh ke dalam kepahitan itu.
Tak kupungkiri bahwa rasa kopi itu pahit tetapi makna dari kopi itu bukan hanya pahit tapi banyak makna dan rasa dari itu semua. Bukan hanya mengenai segelas kopi hitam tanpa gula saja tetapi sesuatu dibalik itu semua. Sesuatu yang lebih.
Temanku berkata bahwa saat dia bercemin dia selalu bertanya kepada cermin,"apakah yang terpantul cermin itu aku?" dan setiap orang akan menjawab,"ya itu elo la!". Bukan itu yang sebenarnya dia tanyakan. Dia bertanya lebih dari itu. Hanya 1 kalimat saja mempunyai banyak makna di dalamnya. Cermati baik-baik pertanyaan itu.
Saat aku benar-benar bercermin aku melihat diriku dan jiwaku. Aku percaya itu aku walaupun aku hanya melihat diriku sebatas cermin. Pertanyaan yang terus terlintas, "Apa yang telah aku lakukan? Apa ini yang aku mau? Apa ini jalan yang tepat? Apa ini diriku?" dan begitu banyak pertanyaan yang terlintas hanya karna 1 pertanyaan yaitu, "Apakah itu aku?". Bercerminlah dan tanya hal yang sama kepada cermin. Apabila kamu tau jawabannya beritau aku karena untukku, pertanyaan itu tak akan pernah ada jawabannya.
Seperti segelas kopi hitam tanpa gula. Aku tidak hanya membahas segelas kopi hitam tanpa gula. Aku ulangi sekali lagi ada sesuatu yang lebih dari 5 kata itu. Sesuatu yang mempunyai makna sangat dalam dari apa yang kita rasakan selama ini. Sesuatu yang benar-benar lebih dari banyak kata.
Aku mencium aromanya, aku memimumnya dan aku merasakannya. Tak jauh berbeda dengan sebuah cermin, apabila kita benar-benar melihat, akan begitu banyak pertanyaan dan makna. Seperti segelas kopi hitam tanpa gula yang apabila kita benar-benar merasakannya, akan banyak persepsi dan rasa yang timbul.
Bagaimana karakter dari Tuhan? begitu banyak persepsi yang orang buat mengenai Tuhan. Terlalu banyak. Sehingga persepsi itu timbul sendiri di pikiran kita menjadikan Tuhan hanya sebatas pemikiran kita. Hanya Tuhan sendiri yang tau bagaimana karakternya. Tuhan itu tetap suatu misteri terbesar bagi semua mahluk ciptaanNya. Mungkin terlalu jauh untuk membahas ttg Tuhan. Hal itu sama saja apabila kita menanyakan mengenai karakter dari seorang manusia atau seekor binatang. Setiap orang mempunyai pandangan tentang hal itu. Mungkin ada pengajaran mengenai karakter manusia dan pembahasan mengenai mahluk hidup lainnya tetapi yang perlu kita ketahui, mereka mempelajari hanya kulitnya saja tetap yang paling mengetahui karakter dari suatu mahluk/benda adalah mahluk/benda itu sendiri.
Banyak persepsi dari segelas kopi hitam tanpa gula. Persepsi setelah kita melihatnya dan persepsi setelah kita mengecapnya. Tidak ada persepsi yang salah atau benar karena itu semua hanya pembenaran dari sebuah rasa dan makna kopi itu sendiri. Dan yang tau rasa dan makna itu sendiri adalah kopi hitam tanpa gula itu sendiri.
Suatu kesederhanaan simpel yang dibuat segelas kopi hitam tanpa gula. Gula seperti pengecoh dari rasa asli kopi itu sendiri. Yang kita rasakan bukan kopi tapi gulanya. Pernahkah kita menerima kopi yang pahit itu apa adanya? Saat kita tau kopi itu pahit, kita bersumpah untuk tidak meminumnya dan mulai berpersepsi.
Setiap orang mulai berpersepsi dengan apa yang ada di dekatnya dan bahkan untuk dirinya sendiri. Suatu pembenaran untuk dirinya sendiri akan hal yang dia sukai ato dia tidak sukai. Orang berlomba-lomba untuk memberikan pemanis pada dirinya. Berlomba-lomba mencari pemanis itu hanya untuk kenikmatan lain tanpa melihat apa yang ada di dalamnya. Pemanis. Mengecoh rasa kopi hitam itu sendiri. Mengapa kita tidak mencoba menerima apa adanya rasa kopi hitam tanpa gula itu? Mungkin kita terlalu terlena dengan pemanis itu.
Segelas kopi hitam tanpa gula untukku adalah asli. Awal yang buruk tentunya saat pertama kali mencoba segelas kopi hitam tanpa gula. Kuambil gula dan mulai memasukkannya ke dalam segelas kopi itu. Bukan kenikmatan yang kudapatkan dan sungguh berbeda rasanya. Entah mengapa tetap kupesan kopi itu di hari-hari berikutnya. Telah kusiapkan diriku untuk meminum kopi pahit itu dan entah sejak kapan ada sesuatu yang alami di dalam kepahitan itu. Sesuatu berbeda yang kurasakan. Ada manis di dalam pahit itu. Ada pelajaran berharga di setiap kepahitan yang terjadi. Ada makna indah di setiap kepahitan yang ada. Pahit tetapi manis.
Segelas kopi hitam tanpa gula. Hidup adalah kopi itu dan gula adalah pengecohnya. Dibalik 2 makna kata itu ada 1 yang paling menentukan yaitu keinginan. Keinginan untuk membuat kopi itu pahit atau manis. Saat kamu merasa takut karena pahit yang orang-orang katakan, kamu mulai menambahkan gula agar kamu tidak merasakan pahit itu dan ada saatnya kamu mulai berani mengecap kepahitan dari kopi itu. Panas atau dingin kopi itu akan tetap sama rasanya.
Segelas kopi hitam tanpa gula. Hanya hitam pekat. Pahit. Apa itu benar-benar rasa kopi itu? Apa benar-benar itu rasanya? Rasakan dan nikmatilah!
Rasa pahit kopi itu tidak akan pernah hilang sampai kita tertawa karenanya, tertawa girang bahwa akhirnya kita menemukan manis di dalamnya. Manis tanpa pemanis. Murni tanpa buatan. Saat kita mulai menerima pahit kopi itu, kita akan mulai menyadari betapa manisnya pahit yang diberikan.
Apa arti segelas kopi tanpa gula untukmu? Pikirkan.
Sunday, December 28, 2008
friday night with life
jumat malam yang sebenernya hampir subuh dan sampai pagi.
kabur dari rumah seperti biasa hanya untuk nongkring ( nongkrong smoking ).
jalanan jakarta yang pada tengah malam sudah sepi, ditemani dengan air gerimis yang jatuh dari langit, aku bergumam indah.
dingin yang menusuk saat aku duduk diboncengan merasakan pahit dan indahnya duniaku.
merasakan anugerah yang maha kuasa menjadikan indah itu untukku.
mendengarkan kesunyian berbicara dengan keindahan.
Hatiku bernyanyi mengumandangkan indahnya malam.
Hatiku berbisik "malam ini yang kutunggu".
Bukan suatu malam yang spesial atau mahal. Bukan suatu malam yang eksklusif. Bukan suatu malam yang cerah. Bukan suatu malam yang riuh. Bukan suatu malam yang ramah.
Malam yang biasa. Malam yang kelam. Malam yang mendung. Malam penuh pertanyaan dan jawaban.
Pikiran ini terus melayang. Duduk di pinggir jalan ditemani dengan minuman itu, cemilan itu dan rokok itu. Awal sebuah malam ditemani dengan permainan kartu domino. Bermain sampai tertawa tanpa berpikir apa yang oranglain katakan. Selalu menjadi diri sendiri saat bersama mereka. Pemikiran selalu dihargai. Tidak perlu berbelit-belit menceritakan ini itu karena mereka sudah tau apa yang kurasakan. Kenaifan dan kemunafikan hilang saat bersama mereka. Tameng dan topeng terbuka seiring sirnanya beban yang ada. Mereka tau dan mengerti.
Bising kendaraan bermotor masih ada walaupun saat itu sudah jam 02.30 pagi. Tidak peduli mengenai esok hari yang akan datang. Tidak peduli seberapa susahnya esok hari. Kami hanya tau keindahan ini. Keindahan yang jarang bersama.
Cinta, kehidupan, seni dan agama mewarnai percakapan kami yang tidak biasanya serius. Kami jarang bertemu. Akhirnya kusadari kami sudah dewasa. Begitu banyak yang pertanyaan dan pernyataan yang kami lontarkan. Kami 1 jiwa dengan berbeda pola pikir. Kami menerima dan menghargai perbedaan itu. Kami 1 hati. Kekecewaan yang terjadi kepada orang-orang yang mangaku pengikut Tuhan. Memaksakan pemikiran mereka kepada oranglain dan mengatasnamakan apa yang mereka sebut kebenaran akan Tuhan. Kekecewaan yang terjadi karena perbedaan begitu banyak "simbol" yang berujung pada kekekalan dan kebahagiaan abadi.
Apa ini semua? Berujung pada suatu keinginan. Mengikuti semua peraturan tetapi ingin suatu timbal balik. Mengumandangkan kebenaran yang dia sendiri tidak mengerti apa itu kebenaran. Mereka bertanya, jadi "simbol" lo yang mana? Aku menjawab, tidak ada "simbol" yang aku tau aku hanya percaya Tuhan. Pertanyaan yang sering terjadi, mengapa aku percaya Dia? Jawabanku, jalanan ada yang mengatur sehingga membuat itu tentram sama saja seperti kehidupan. Kehidupan bisa berjalan seteratur itu pasti ada karena sesuatu. Sesuatu itu adalah Dia.
Hubungan dangkal dan pikiran cetek karena mengharapkan sebuah timbal balik. Menuruti semua perintahNya hanya karena mengharapkan sesuatu hal. Aku mencari sesuatu yang lebih. Aku mencari suatu hubungan yang lebih spesial dengan Nya tanpa menghiraukan pengorbanan dan imbalan yang akan Dia berikan. Entah apa dan bagaimana hubungan itu. Aku masih mencari.
Bagaimana seandainya Dia tidak memberikan semua harapan itu? Bagaimana seandainya surga dan neraka itu tidak ada? Bagaimana Dia tidak pernah mengorbankan diriNya? Apa kita akan tetap percaya dan tetap mengikut Dia?
Trauma dan sakit hati membawaku pada suatu pernyataan bahwa aku tak percaya pernikahan. Pernikahan didasarkan cinta dan apa cinta itu akan terus ada seumur hidup? Pernikahan berdasarkan cinta bisa bercerai. "cinta mempunyai kadaluarsa". Tak mengerti makna dari cinta itu karena aku sendiri merasakan akibat dari cinta. Cinta itu adalah perasaan. Seorang teman bilang, jangan pernah trauma oleh cinta karena nantinya yang dirasakan bukan cinta tapi ketakutan. Dia benar. Aku mencoba untuk percaya lagi dan mencoba untuk membangun komitmen akan cinta. Cinta tak ada yang abadi. Pernikahan bagiku hanya sebuah ritual akan persatuan 2 komitmen yang berbeda yang mempunyai kadaluarsanya sendiri. Dengan banyak cara merealisasikan kadaluarsa itu. Aku percaya cinta itu ada tapi tak mengerti cinta untuk hidupku.
Kehidupan menimbulkan banyak persepsi untukku dan untuk kami. Mereka bilang hidup itu penuh dengan sandiwara, hidup itu indah, hidup itu petualangan, hidup itu ujian, hidup itu masalah, hidup itu ini. Banyak sekali persepsi dan tidak ada yang salah. Bagiku, hidup itu penuh dengan filosofi, penuh dengan pertanyaan dan menimbulkan pernyataan. Temanku berkata, hidup itu akan semakin indah dengan berbagi dan tidak dibatasi dengan materi. Aku sangat setuju. Sekarang ini, hidup dinilai dengan materi. Hidup dibatasi dengan kebanggaan. Hidup adalah cita-cita. Hidup adalah pilihan. Hidup adalah indera. Bagiku, kehidupan dimulai saat kita dilahirkan, saat menangis pertama kali, saat paru-paru kita terbuka untuk menghirupkan udara dan kematian adalah titik akhir. Kita adalah kehidupan. Tak akan pernah habis.
Selama aku hidup, banyak sekali cerita yang terjadi. Setiap tahun adalah sebuah buku untukku. Tak pernah sedikitpun aku mendapatkan jawaban bagaimana aku bisa menerima harga sebuah buku itu. Bagaimana aku dapat menerima kegagalan dari setiap cerita. Bagaimana aku dapat mengikhlaskan akhir dari buku itu. Bagaimana aku dapat mengikhlaskan bahwa buku itu milikku. Menerima dan mengikhlaskan.
kabur dari rumah seperti biasa hanya untuk nongkring ( nongkrong smoking ).
jalanan jakarta yang pada tengah malam sudah sepi, ditemani dengan air gerimis yang jatuh dari langit, aku bergumam indah.
dingin yang menusuk saat aku duduk diboncengan merasakan pahit dan indahnya duniaku.
merasakan anugerah yang maha kuasa menjadikan indah itu untukku.
mendengarkan kesunyian berbicara dengan keindahan.
Hatiku bernyanyi mengumandangkan indahnya malam.
Hatiku berbisik "malam ini yang kutunggu".
Bukan suatu malam yang spesial atau mahal. Bukan suatu malam yang eksklusif. Bukan suatu malam yang cerah. Bukan suatu malam yang riuh. Bukan suatu malam yang ramah.
Malam yang biasa. Malam yang kelam. Malam yang mendung. Malam penuh pertanyaan dan jawaban.
Pikiran ini terus melayang. Duduk di pinggir jalan ditemani dengan minuman itu, cemilan itu dan rokok itu. Awal sebuah malam ditemani dengan permainan kartu domino. Bermain sampai tertawa tanpa berpikir apa yang oranglain katakan. Selalu menjadi diri sendiri saat bersama mereka. Pemikiran selalu dihargai. Tidak perlu berbelit-belit menceritakan ini itu karena mereka sudah tau apa yang kurasakan. Kenaifan dan kemunafikan hilang saat bersama mereka. Tameng dan topeng terbuka seiring sirnanya beban yang ada. Mereka tau dan mengerti.
Bising kendaraan bermotor masih ada walaupun saat itu sudah jam 02.30 pagi. Tidak peduli mengenai esok hari yang akan datang. Tidak peduli seberapa susahnya esok hari. Kami hanya tau keindahan ini. Keindahan yang jarang bersama.
Cinta, kehidupan, seni dan agama mewarnai percakapan kami yang tidak biasanya serius. Kami jarang bertemu. Akhirnya kusadari kami sudah dewasa. Begitu banyak yang pertanyaan dan pernyataan yang kami lontarkan. Kami 1 jiwa dengan berbeda pola pikir. Kami menerima dan menghargai perbedaan itu. Kami 1 hati. Kekecewaan yang terjadi kepada orang-orang yang mangaku pengikut Tuhan. Memaksakan pemikiran mereka kepada oranglain dan mengatasnamakan apa yang mereka sebut kebenaran akan Tuhan. Kekecewaan yang terjadi karena perbedaan begitu banyak "simbol" yang berujung pada kekekalan dan kebahagiaan abadi.
Apa ini semua? Berujung pada suatu keinginan. Mengikuti semua peraturan tetapi ingin suatu timbal balik. Mengumandangkan kebenaran yang dia sendiri tidak mengerti apa itu kebenaran. Mereka bertanya, jadi "simbol" lo yang mana? Aku menjawab, tidak ada "simbol" yang aku tau aku hanya percaya Tuhan. Pertanyaan yang sering terjadi, mengapa aku percaya Dia? Jawabanku, jalanan ada yang mengatur sehingga membuat itu tentram sama saja seperti kehidupan. Kehidupan bisa berjalan seteratur itu pasti ada karena sesuatu. Sesuatu itu adalah Dia.
Hubungan dangkal dan pikiran cetek karena mengharapkan sebuah timbal balik. Menuruti semua perintahNya hanya karena mengharapkan sesuatu hal. Aku mencari sesuatu yang lebih. Aku mencari suatu hubungan yang lebih spesial dengan Nya tanpa menghiraukan pengorbanan dan imbalan yang akan Dia berikan. Entah apa dan bagaimana hubungan itu. Aku masih mencari.
Bagaimana seandainya Dia tidak memberikan semua harapan itu? Bagaimana seandainya surga dan neraka itu tidak ada? Bagaimana Dia tidak pernah mengorbankan diriNya? Apa kita akan tetap percaya dan tetap mengikut Dia?
Trauma dan sakit hati membawaku pada suatu pernyataan bahwa aku tak percaya pernikahan. Pernikahan didasarkan cinta dan apa cinta itu akan terus ada seumur hidup? Pernikahan berdasarkan cinta bisa bercerai. "cinta mempunyai kadaluarsa". Tak mengerti makna dari cinta itu karena aku sendiri merasakan akibat dari cinta. Cinta itu adalah perasaan. Seorang teman bilang, jangan pernah trauma oleh cinta karena nantinya yang dirasakan bukan cinta tapi ketakutan. Dia benar. Aku mencoba untuk percaya lagi dan mencoba untuk membangun komitmen akan cinta. Cinta tak ada yang abadi. Pernikahan bagiku hanya sebuah ritual akan persatuan 2 komitmen yang berbeda yang mempunyai kadaluarsanya sendiri. Dengan banyak cara merealisasikan kadaluarsa itu. Aku percaya cinta itu ada tapi tak mengerti cinta untuk hidupku.
Kehidupan menimbulkan banyak persepsi untukku dan untuk kami. Mereka bilang hidup itu penuh dengan sandiwara, hidup itu indah, hidup itu petualangan, hidup itu ujian, hidup itu masalah, hidup itu ini. Banyak sekali persepsi dan tidak ada yang salah. Bagiku, hidup itu penuh dengan filosofi, penuh dengan pertanyaan dan menimbulkan pernyataan. Temanku berkata, hidup itu akan semakin indah dengan berbagi dan tidak dibatasi dengan materi. Aku sangat setuju. Sekarang ini, hidup dinilai dengan materi. Hidup dibatasi dengan kebanggaan. Hidup adalah cita-cita. Hidup adalah pilihan. Hidup adalah indera. Bagiku, kehidupan dimulai saat kita dilahirkan, saat menangis pertama kali, saat paru-paru kita terbuka untuk menghirupkan udara dan kematian adalah titik akhir. Kita adalah kehidupan. Tak akan pernah habis.
Selama aku hidup, banyak sekali cerita yang terjadi. Setiap tahun adalah sebuah buku untukku. Tak pernah sedikitpun aku mendapatkan jawaban bagaimana aku bisa menerima harga sebuah buku itu. Bagaimana aku dapat menerima kegagalan dari setiap cerita. Bagaimana aku dapat mengikhlaskan akhir dari buku itu. Bagaimana aku dapat mengikhlaskan bahwa buku itu milikku. Menerima dan mengikhlaskan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
