sama. berubah.
tidak bisa merasakan itu semua lagi dan mungkin belum saatnya. obrolan panjang tetapi singkat. tampaknya aku butuh seorang psikiater. aku membutuhkan seseorang yg dapat menolongku. aku runtuh. terkikis pasrah. aku jatuh. aku berdamai dengan damai tetapi sepertinya damai belum kurasakan. aku senang. aku takut. aku berdamai dengan damai tetapi semakin banyak pertanyaan aku dengan damai. aku sibuk dengan sendiriku, dengan duniaku. terlalu sibuk. menangis tetapi tak pernah ada yg mengerti mengapa. tertawa tetapi tak ada yang merasa lucu. berbicara tetapi tidak ada yang mengerti. aku bertanya tak ada yang bisa menjawab.
Ketidak sempurnaan membuat manusia bergantung. Ketidakberdayaan membuat manusia meminta tlng. Ketiadaan membuat manusia mencari. Kekurangan membuat manusia berusaha.
Manusia memang saling membutuhkan tetapi bagaimana oranglain tidak ada yang mengerti apa yang aku butuhkan. Aku membutuhkan lebih dari seorang pendengar. Aku membutuhkan lebih dari seorang penasehat. Aku membutuhkan lebih dari kebenaran. Aku membutuhkan lebih dari pertanyaan. Aku membutuhkan lebih dari pernyataan. Aku sangat membutuhkan jawaban dan kejujuran. Jawaban dari ketidaksempurnaan, ketidakberdayaan, ketiadaan, kekurangan. Jawaban dari semua ego umat manusia yang pada akhirnya hanya bisa diam. Kejujuran dari semuanya.
Jam 05 pagi skrg dan aku tak bisa tidur hanya karena perasaan konyol ini. Akhirnya aku dapatkan apa itu. Aku tau apa itu. 1 jam obrolan yang sangat berarti ternyata. Bukan hanya brdamai dengan damai tetapi mngerti perasaan ini. Perasaan yang terjawab saat dia bertanya,"Setelah sebulan kita dieman, lo seneng ga si denger suara gue?". Aku terdiam dan menjawab,"Gue senengla pasti". Jawaban datar kami sepakat. Kami terwata karena kedataran yang aku buat. Entah tawa apa. Tawa mengagetkan hening mungkin. Tawa abu-abu.
Kami terlalu naif. Kami terlalu munafik. Hidup di dalam topeng dan tameng. Aku berusaha membuka itu semua. Aku membukanya. Aku memberitahunya. Aku berbicara dengannya bukan dari pikiranku tetapi akhirnya dari hatiku. Tak semua karena masih ada batasan itu yang aku tak tau apa. Aku berkata,"Kita damai" tetapi lagi-lagi topeng itu yang kupakai. "Kita damai" tetapi masih ada batasan itu. "Kita damai" tetapi hatiku tidak berdamai. "Kita damai" tetapi jiwaku gelisah. Aku masih sibuk dengan pikiranku. Aku sibuk tetapi dia diam. Aku berbelok dan dia hanya mengikuti bukan merangkulku. Aku diam, dia sibuk agar aku ikut bergerak. Entah yang mana siklusnya. Aku bingung untuk bergerak. Mungkin memang tidak ada siklus.
Berusaha kumelepas ego itu. Berusaha kumelepas keomongkosongan itu tapi tak bisa. Berusaha sekuat tenaga. Benar-benar berusaha sekeras mungkin. Bergulat aku dengan diri ini.
1 yang kuungkapkan. 1 mewakili segalanya. "Kita berdamai tetapi tidak akan pernah menjadi seseorang untuk kita sendiri lagi". Sudah kuterima tak ada sapaan lagi. Tak ada ketergantungan lagi. Tak ada cerita yang berarti lagi. Tak ada tawa dan sedih itu lagi. Tak ada percaya lagi.Tak ada hati seorang sahabat. Tak ada senyuman sahabat.
Aku egois. Memang. Aku naif dan munafik. Aku iyakan semua perkataanmu. Aku iyakan semua yang kamu rasakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan.
Aku yakinkan hanya untuk damai itu kembali padaku. Aku tak peduli ada damai itu untukmu atau tidak. Aku tak peduli lagi tapi aku peduli. Ternyata aku peduli. Ingin berteriak aku masih peduli pada sahabat kecilku. Tertawa girang bahwa aku peduli. Aku peduli.
Waktu untuk berpikir selama sebulan tak ada kontak sama sekali. Setelah aku dan dia sepakat menjadi seperti yang dulu. Tetap aku tak bisa. Entah perasaan apa itu tapi perasaan itu bukan perasaan indah. A fake plastic. Semua memori indah seperti sudah siap untuk berabu. Semua memori tak ingin kuulang tapi akan aku ingat. Akan kurindukan. Selalu.
Lebih baik kamu pergi, damaiku. Sahabat kecilku. Biarkan aku mempunyai damaiku sendiri. Hanya biarkan aku sendiri. Diam. Hening. Mencoba berdiri dari rangkakan. Mencoba bertahan di setiap perubahan. Mencoba mengikhlaskan sahabat kecilku pergi. Membiarkan sahabat kecilku bahagia dengan damainya.
Friday, January 2, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

7 comments:
ahhhh,,sadis nusuk bgt critanya!!!hikz,,hikz,,sampai lebayyy ni gw...wkwkwkwkkwk...
btw,,siapa tuhh??memang gw g akan kenal orang itu,,klo emang yang barusan diceritakan ttg seseorang dalam diri lo..tetapi mungkin ajah gw bisa jadi tempat bertukar pikiran..berbagi cerita tentang kehidupan ini..hehehe
you have a keys,,gaaa...follow it ajah,,and don`t be CUPU...hehehe
tetap semangat apapun yg terjadi,krna hidup cuma sekali,makanya kita harus maksimalkan waktu yg tersisa buat kita.yg udah terjadi ya jdiin pelajaran buat kedpannya.ok!hahaha
jika lo punya kenangan indah maupun buruk,, ibaratnya lo telah menulis suatu cerita di suatu lembar atau halaman dari buku kehidupan lo, jangan pernah buang lembar atau halaman tersebut.. biar menjadi suatu pelajaran. krna kita belajar dari pengalaman kita itu. kita bisa membuka kembali lembar atau halaman itu, lalu kita renungkan, kapan saja.
ega....?!
"manusia saling membutuhkan..tp org lain nga tau ap yg ak btuhkan..."
Knp ky gitu ga..tp emang itu yg gw rasain..?!mreka nga ngerti ap yg gw mau..?!tp gw brusaha ngerti mreka..!!
Knpa..?!
Knpa..?!
Knapaaaaa...?!
Tp kadang pngen rsnya dnger suarany..
Pdhal knyataanny..!!hhhfff..
-j-
miris bangett gaa...
semangat ga!! semangat!!
tetep senyum! soalnya kalo kagak senyum, enggak ega bangeett..
keep smiling ga.... nice writings....... gue baru tahu sisi kehidupan lo yang ini... sukses terus ya ga :D
Post a Comment