Thursday, January 29, 2009

seseorang

Malam yang seharusnya indah. Malam perpisahan yang patut dikenang.

Seseorang yang cantik, anggun, baik, sombong, angkuh, yang sangat kucintai sekaligus kubenci.

Seseorang yang menghidupiku, yang merawatku, yang memberiku nafas, orang pertama yang mendengar tangisan pertamaku, yang memberikan penyesalan.

Seseorang yang mampu membuatku melayang dan terjatuh sekaligus.

Seseorang yang terlalu mahal untuk menunduk dan membungkuk.

Seseorang yang membentuk karakterku.

Seseorang tempat aku mengadu, menangis, bercerita dan orang yang kuumpat.

Mencoba kuikhlas tapi tak ada senyum.

Memberikan yang terbaik tapi hanya menganggapku sama.

Mengerti aku, mengapa mereka yang sedarah denganku menjadi kehilangan kendali dalam kapalnya hingga melenceng dari jalurnya dan menjadi sebuah ceret yang meletup-letup. Mengumpat aku kepada mereka, ternyata aku sama dengan mereka.

Seseorang yang membangunkan aku dengan teriakannya dalam mimpi indahku, memaksaku untuk hidup bersahabat dengan mimpi buruknya.

Waktu begitu cepat.
Ingin mengulang waktu di saat semuanya begitu indah, disaat aku masih tertidur lelap dan tak ada yang membangunkan aku. Membiarkan aku bermimpi indah sampai kematangan datang kepadaku dan berkata, " Dia sudah siap". Semuanya seperti bergilir. Mereka dihampiri saat mereka bersama dengan kedewasaan yang pas. Tidak pas kematangan berbicara kepadaku sehingga tidak ada tawar menawar dengan kedewasaan. Membuatku terdiam mendengar pembicaraan itu. Membisukan pikiran dan jiwaku. Menekan tombol pause kepada hidupku, memainkannya sehingga membuatku berjalan dalam permainannya yg hanya mempermainkanku.

Goresan demi goresan yang tercoreh membuat semua itu harus dijahit tetapi jahitan itu tidak pernah kering dan akan membekas. Setiap amarah yang timbul tidak pernah terselesaikan membuat semuanya membengkak dan siap diledakkan. Entah siapa yang selalu bisa membedakan kabel yang dapat mematikan bom itu. Menunjuk dirinya masing-masing. Tidak bisa mengerti karena memang semuanya sudah berubah.

Tak ada senyumnya. Tak ada pelukan hangatnya. Tak ada belaian lembutnya. Tak ada kecupan yang brarti. Tak ada hal yang ada di mimpiku.

Tak bisa membedakan kenyataan dan mimpi. Yang mana kenyataan?

No comments: