06 Januari 2010 saat ini.
7 hari setelah megosongkan isi gelas yang terlalu penuh.
6 hari untuk pelan-pelan mengisinya kembali.
selamanya untuk mengerti.
ada apa dengan hari ini?
masih bertaut dengan resolusi.
masih mencari pembenaran dan menjalaninya.
di tengah keramaian tapi seperti tuli dan gagu.
memandang ke depan dan membiarkannya berkedip.
harapan dan mimpi akan menjadi tuangan air pertama bagi gelas itu.
tetapi kali ini sebotol wine dan sebatang rokok yang mengisinya.
yaa,bersenang-senang kata mereka.
ini bukan sebuah ketikan untuk menyambut tahun yang baru.
ini hanyalah tuangan untuk gelas besar selanjutnya.
kembali merasakan jejak kaki para pembual.
mendengus para pencaci.
mengacuhkan para penjinak.
sampah mengeluarkan kerongkongan berlendir.
tangannya siap menerjam taringnya.
tawanya tertelan menertawakan dirinya.
tampaknya akan banyak huruf yang terketik menandakan pembunuhan waktu.
membiarkan jari-jari ini memainkan not-not indah membentuk nyanyian merdu.
waktu yang terbunuh dan gelas yang terisi.
terlalu sakit untuk membuka pintu memori, apa harus dibuka?
banyak sekali daun pohon yang ditebang dan daun yang dipetik.
tindakan yang sengaja, memang untuk membunuh.
beribu langkah yang tercipta yang awalnya untuk berjalan akhirnya untuk berlari.
berlari mencari tempat persembunyian asing.
banyak teori yang tercipta.
banyak sumpah serapah yang terucap.
banyaknya pengakuan yang tak berarti.
ujian demi ujian terlewati dan ya,disinilah setiap kata yang disusun berbalik menantang.
sebuah pertempuran baru satu persatu datang.
ketidak adilan yang ditertawakan.
mencoba ambil pengertian dari setiap makna.
pandangan yang tidak pernah sama.
pembicaraan yang berusaha dipertahankan.
semua kata tak lagi terpikir tetapi teralirkan.
keyakinan yang selalu sama dan terjebak.
mencoba merasakan keyakinan.
menerima dan mencari jawaban lalu menolak dan memutuskannya.
tercampakan dan dicampakkan, kebohongan menutupi semuanya.
dahi selalu menyerngit menatap bulan yang dapat tetap bersinar.
mengantikannya dengan pandangan kabur yang tak berdaya oleh muntahan dan pusingnya kepala.
Asap bukan menjadi pandanganku lagi.
Nikotin bukan bagian dari diriku lagi.
tar bukan mainanku lagi.
Menghilangkan ketergantungan dan melepaskan hasrat.
Membiarkan diri ini kuat karena memang aku kuat.
Membiarkan diri ini puas karena pencapaian.
Menghilangkan kolesterol dan menambah protein.
Tawa karena gelas itu terisi sedikit berguna.
Bahagiakah mengikuti kesempurnaan Buddha?
apa yang menjadi ukuran kebahagiaan?
bising terus berlomba memacu jantung yang tak berhenti.
bahagia, apa itu? omong kosong tolol yang terjadi.
tak pernah terpikir apa itu, apa yang menjadi ukuran, terdiam.
seorang malaikat yang menamparku dengan pertanyaan itu.
selama ini hanya terpaku pada aliran hidup tapi tak mengerti senyum.
kecerahan yang tak bisa diketik dan yang paling ditakuti.
tertunduk tangis karena warna itu hanya hitam.
takut selalu menjadi kembaranku bahkan lebih erat.
jantung ini semakin berdegup dan takut merasukinya.
keluar, pergi, jauhi, TERIAKKU AKAN MENEMANIMU SAMPAI MATI.
SUMPAH, AKU BAHAGIA.
Lompatan terakhir untuk melengkapinya.
Tuhan, dimana Engkau?
gelas kembali kosong.
sampai bertemu di gelas yang lebih besar lagi.
Wednesday, January 6, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment