Sunday, December 28, 2008

friday night with life

jumat malam yang sebenernya hampir subuh dan sampai pagi.
kabur dari rumah seperti biasa hanya untuk nongkring ( nongkrong smoking ).
jalanan jakarta yang pada tengah malam sudah sepi, ditemani dengan air gerimis yang jatuh dari langit, aku bergumam indah.
dingin yang menusuk saat aku duduk diboncengan merasakan pahit dan indahnya duniaku.
merasakan anugerah yang maha kuasa menjadikan indah itu untukku.
mendengarkan kesunyian berbicara dengan keindahan.
Hatiku bernyanyi mengumandangkan indahnya malam.
Hatiku berbisik "malam ini yang kutunggu".

Bukan suatu malam yang spesial atau mahal. Bukan suatu malam yang eksklusif. Bukan suatu malam yang cerah. Bukan suatu malam yang riuh. Bukan suatu malam yang ramah.

Malam yang biasa. Malam yang kelam. Malam yang mendung. Malam penuh pertanyaan dan jawaban.

Pikiran ini terus melayang. Duduk di pinggir jalan ditemani dengan minuman itu, cemilan itu dan rokok itu. Awal sebuah malam ditemani dengan permainan kartu domino. Bermain sampai tertawa tanpa berpikir apa yang oranglain katakan. Selalu menjadi diri sendiri saat bersama mereka. Pemikiran selalu dihargai. Tidak perlu berbelit-belit menceritakan ini itu karena mereka sudah tau apa yang kurasakan. Kenaifan dan kemunafikan hilang saat bersama mereka. Tameng dan topeng terbuka seiring sirnanya beban yang ada. Mereka tau dan mengerti.

Bising kendaraan bermotor masih ada walaupun saat itu sudah jam 02.30 pagi. Tidak peduli mengenai esok hari yang akan datang. Tidak peduli seberapa susahnya esok hari. Kami hanya tau keindahan ini. Keindahan yang jarang bersama.

Cinta, kehidupan, seni dan agama mewarnai percakapan kami yang tidak biasanya serius. Kami jarang bertemu. Akhirnya kusadari kami sudah dewasa. Begitu banyak yang pertanyaan dan pernyataan yang kami lontarkan. Kami 1 jiwa dengan berbeda pola pikir. Kami menerima dan menghargai perbedaan itu. Kami 1 hati. Kekecewaan yang terjadi kepada orang-orang yang mangaku pengikut Tuhan. Memaksakan pemikiran mereka kepada oranglain dan mengatasnamakan apa yang mereka sebut kebenaran akan Tuhan. Kekecewaan yang terjadi karena perbedaan begitu banyak "simbol" yang berujung pada kekekalan dan kebahagiaan abadi.

Apa ini semua? Berujung pada suatu keinginan. Mengikuti semua peraturan tetapi ingin suatu timbal balik. Mengumandangkan kebenaran yang dia sendiri tidak mengerti apa itu kebenaran. Mereka bertanya, jadi "simbol" lo yang mana? Aku menjawab, tidak ada "simbol" yang aku tau aku hanya percaya Tuhan. Pertanyaan yang sering terjadi, mengapa aku percaya Dia? Jawabanku, jalanan ada yang mengatur sehingga membuat itu tentram sama saja seperti kehidupan. Kehidupan bisa berjalan seteratur itu pasti ada karena sesuatu. Sesuatu itu adalah Dia.

Hubungan dangkal dan pikiran cetek karena mengharapkan sebuah timbal balik. Menuruti semua perintahNya hanya karena mengharapkan sesuatu hal. Aku mencari sesuatu yang lebih. Aku mencari suatu hubungan yang lebih spesial dengan Nya tanpa menghiraukan pengorbanan dan imbalan yang akan Dia berikan. Entah apa dan bagaimana hubungan itu. Aku masih mencari.

Bagaimana seandainya Dia tidak memberikan semua harapan itu? Bagaimana seandainya surga dan neraka itu tidak ada? Bagaimana Dia tidak pernah mengorbankan diriNya? Apa kita akan tetap percaya dan tetap mengikut Dia?

Trauma dan sakit hati membawaku pada suatu pernyataan bahwa aku tak percaya pernikahan. Pernikahan didasarkan cinta dan apa cinta itu akan terus ada seumur hidup? Pernikahan berdasarkan cinta bisa bercerai. "cinta mempunyai kadaluarsa". Tak mengerti makna dari cinta itu karena aku sendiri merasakan akibat dari cinta. Cinta itu adalah perasaan. Seorang teman bilang, jangan pernah trauma oleh cinta karena nantinya yang dirasakan bukan cinta tapi ketakutan. Dia benar. Aku mencoba untuk percaya lagi dan mencoba untuk membangun komitmen akan cinta. Cinta tak ada yang abadi. Pernikahan bagiku hanya sebuah ritual akan persatuan 2 komitmen yang berbeda yang mempunyai kadaluarsanya sendiri. Dengan banyak cara merealisasikan kadaluarsa itu. Aku percaya cinta itu ada tapi tak mengerti cinta untuk hidupku.

Kehidupan menimbulkan banyak persepsi untukku dan untuk kami. Mereka bilang hidup itu penuh dengan sandiwara, hidup itu indah, hidup itu petualangan, hidup itu ujian, hidup itu masalah, hidup itu ini. Banyak sekali persepsi dan tidak ada yang salah. Bagiku, hidup itu penuh dengan filosofi, penuh dengan pertanyaan dan menimbulkan pernyataan. Temanku berkata, hidup itu akan semakin indah dengan berbagi dan tidak dibatasi dengan materi. Aku sangat setuju. Sekarang ini, hidup dinilai dengan materi. Hidup dibatasi dengan kebanggaan. Hidup adalah cita-cita. Hidup adalah pilihan. Hidup adalah indera. Bagiku, kehidupan dimulai saat kita dilahirkan, saat menangis pertama kali, saat paru-paru kita terbuka untuk menghirupkan udara dan kematian adalah titik akhir. Kita adalah kehidupan. Tak akan pernah habis.

Selama aku hidup, banyak sekali cerita yang terjadi. Setiap tahun adalah sebuah buku untukku. Tak pernah sedikitpun aku mendapatkan jawaban bagaimana aku bisa menerima harga sebuah buku itu. Bagaimana aku dapat menerima kegagalan dari setiap cerita. Bagaimana aku dapat mengikhlaskan akhir dari buku itu. Bagaimana aku dapat mengikhlaskan bahwa buku itu milikku. Menerima dan mengikhlaskan.

10 comments:

Anonymous said...

huuff.
pusing gw ga. haha.

Kurisutaberu said...

cieeeh egaaa! akhirnya lo mempublikasikan blog. ahaayy!

Anonymous said...

hmff,,gw bingung ga?
tapi kata2nya bagus kok.
crta selanjutnya...

Anonymous said...

kita sedang menjalani sebuah siklus. siklus kehidupan. dalam bahasa Bali, "Samsara". dimana cinta, hidup, komitmen, dan segala hal yg berhubungan dengan kehidupan sedang berjalan sesuai dengan siklusnya.
dan ega, seorang sahabat gw, lo salah satu orang yang sedang mengartikan arti sebuah kehidupan dengan cara lo sendiri.

Anonymous said...

haha yea u musnt find symbols in everything u see

Anonymous said...

hmmm, ga nyangka gw lo nulis ky gt. haaha.
mia

rizulymulia said...

memang hidup itu analogi sebuah buku..disetiap waktu kita menjalaninya...seolah mengisi lembaran-lembaran buku itu...dan satu hal yang terpenting..timbul dari egonya manusia,,dmn setelah menulisi buku-buku tersebut kedepannya tidak akan pernah di baca kembali..dimana proses pembelajaran/pendewasaan diri ini???hanya ego dalam diri...yang menampakkan gengsi diri dalam menulisi buku-buku yang baru..

Anonymous said...

lyk i said ga...
if u need a clue, ask ur heart

Citra said...

I love you a lot more, Ga! Tulisan lo itu berwarna, tulisan lo itu gambaran lo dan hidup lo. Hey, while you (and life around you) are not that perfect, remember that : you are still pretty damn special.

nitalanaf said...

Ya i think we have d same opinion about love.. I know it but it never knows me.. But d difference is: i always believe that God always give d best 4 every moment we've passed.. So, there's no hopeless 4 me 2 find a thing called: HAPPINESS..