Saturday, November 28, 2009

nyanyian bisu

suasana yang tercipta.
pembicaraan yang berkumandang.
pemadangan yang berbisik.
lukisan yang tertata.
semua tak pernah sama.

tangisan yang menata hidup, kesenangan yang merobek logika.
tak pernah sama.
disaat tulisan itu terketik, disaat membina bangunan yang kokoh.
tak pernah lagi berharga.
bisikan demi bisikan dan kebahagiaan yang tak bisa diganggu.
bangunan itu rubuh.

logika berkata kokoh tetapi hati tak pernah sama.
semuanya terasa hanya penipuan karakter.
karakter yang bertahun-tahun terbentuk bersama.
dirusak oleh sebuah karakter yang tak dikenal membuat komplikasi.
bimbang dan tak yakin selalu menjadi alasan.
individu kokoh yang berkata kuat ternyata hanya bualan.
jangan berkata, diam saja dan berdansalah.
nikmati saja lagu yang terdengar dan jangan pernah menatap.
karena semua itu hanya nyanyian bisu.

KITA KUAT hanya akan menjadi nyanyian bisu.

Thursday, November 26, 2009

a never ending life

melihat matahari terbit dan memulai untuk berjalan menuju garis start.
berjalan setapak, langkah kecil yang menuju tujuan besar.
menyiapkan diri dan dunia untuk menyambut matahari.
melangkah perlahan mengejar matahari yang terus berjalan seolah berlari.
menatap waktu yang tak pernah berhenti.
gelisah dan gundah terhadap detik yang berteriak sebagai pengingat.
gontai berjalan memandang meja dan kursi yang telah menunggu dalam diam.
menyadari selalu kalah terhadap waktu.
keringat yang mulai terkuras menanti matahari yang semakin tak tampak.
berlarian menatap matahari terbenam.
berlarian ke arah yang tak bertuan.
kembali ke dalam sebuah dekapan dan terikut terbenam.

apa hidup hanya sekedar pengikut matahari? atau hidup sebuah pencapaian terhadap matahari dan bahkan lebih? apa hidup hanya perputaran dangkal yang berhenti disaat tubuh ini terkujur kaku dan ditangisi? hidup lebih dari sekedar mengejar matahari.

Saturday, November 14, 2009

desa cikembang,cibereum,bandung selatan

Langkah perlahan menuju cita-cita yg besar. Langkah kecilpun mulai diambil, langkah kedamaian tercapai. Tak ingin kehilangan satu kesempatan.

Perjalanan ke tempat ini yang cukup melelahkan. Menaiki tronton ke tempat ini. Berjalan 45menit yg menanjak dengan mengangkat tas backpack yg cukup membuat bahu sakit. Hijau di setiap sisi membuat hati ini gembira, membuat hati ini berdamai dengan logika.

Tiba di sebuah tempat yg membuatku berpikir bahwa tempat itu tdk pantas disebut sebuah rumah. Tempat itu hanya sebuah pondokan yg berdinding anyaman dan hanya berpintu papan. Tempat itu kulihat,kumasuki dan tempat ini kusebut rumah.

Terlalu baik pak herman dan keluarganya. Terlalu sederhana dia. Seorang desa yg menerima seorang anak kota yang tak tau apa2 ttg hidup. Di setiap senyuman, tawa, obrolan, makan, tidur sampai sgala hal yg mereka lakukan, mereka memberikan keapa adaan. Mereka memberikan kedamaian. Mereka memberikan sisi hidup yg berbeda. Mereka membuat semuanya baik-baik saja. Mereka terlalu indah untuk disakiti.

Semakin dalam kutelusuri desa ini. Semakin banyak langkah yg kuraih. Kutetapkan untuk melihat. Kuteguhkan untuk meraih. Tak prnh menyesal berada di tmpt ini. Tak pernah kusesalkan perjalanan yg lelah itu. Semakin dalam semakin indah. Aku berada di tempat tinggi ini. Sangat dekat dengan hijau ini. Sangat dekat dengan awan. Sangat dekat dengan langit. Sangat dekat dengan hujan yg turun. Sangat dekat dengan kabut ini dan aku merasa sangat dekat dengan surga.

Aku melihatnya dan aku berbicara kepada Tuhan. Tuhan tersenyum dan membiarkanku untuk melihat semuanya. Aku berada di antara surga dan bumi.

Sunday, August 23, 2009

SEA OF HOPE

HARAPAN untuk sebuah kehidupan.

berbicara mengenai harapan seperti meninggalkan kehidupan nyata karena terkadang harapan tidak bisa disatukan oleh kenyataan tetapi adakanya harapan bersahabat dengan kehidupan nyata. Harapan membuat setiap orang berjuang dan hidup.
berbicara mengenai harapan untuk saya, terlebih dahulu lebih indah seperti mengunci diri dengan balutan selimut tebal beralaskan kasur empuk di kamar dengan pendingin ruangan yang menyala dingin. Memulai untuk bermimpi :

Kebebasan memilih tanpa dihakimi. Disaat tidak ada drama atau sandiwara di dunia ini.
Sukses dalam karir dan membuka toko es krim milik sendiri. Memberikan senyum kepada semua orang, membagikan ketenangan. Berkeliling dunia mencari sesuatu yang tidak pernah dilihat oranglain, melihat kemewahan dan keterpurukan, melihat manusia yang merawat alam, melihat alam yang diberikan kepada manusia, mencari kehidupan, mencari pernyataan dari setiap pertanyaan, melihat dunia dan berkenalan dengan dunia kehidupan dari dalam. Mengumpulkan uang lebih banyak lagi dan dihabiskan untuk berwisata ke luar angkasa. Melihat bumi dari luar angkasa, melihat lebih dekat matahari menyinari, melihat kehidupan dari luar, melihat semuanya lebih dekat perlahan-lahan tersenyum dan menutup mata untuk selamanya.

harapan pribadi yang dapat mengubah kehidupan masa depan dan mengubah hari ini.

Penghakiman yang diucapkan, perceraian yang didendangkan,bernyanyi ego dan perasaan dikalahkan oleh logika. harapanku untuk menyembuhkan luka dunia dan membuat dunia menjadi tempat untuk manusia.

Wednesday, August 19, 2009

happiness kissed by love

memori lama.

apakah bahagia dan kasih sayang bisa disatukan?
bahagia sudah pasti menyayangi tetapi kasih sayang belum tentu membuat semuanya bahagia. apakah betul begitu?

pertanyaan terus memenuhi kepala.
apa ini namanya kasih sayang? apa ini bahagia?
setiap berjalan tak mengerti perasaan apa yang singgah.
setiap tertawa tak mengerti apa yang ada.
setiap tangis dan gelisah yang selalu terpampang jelas.
setiap airmata jatuh apakah itu juga bisa disebut bahagia?

semua dangkal tentang perasaan ini.
saat logika dikalahkan oleh perasaan hati.
saat amarah dikalahkan oleh bahagia.
saat gengsi dikalahkan kasih sayang.

diam mungkin suatu jawaban dari ketidakpastian.
seorang teman berkata bahwa saat kita menjalani sesuatu yang sudah kita setujui seharusnya kita berjalan bukan dengan sedih tetapi dengan senang.
menjalani dengan tangisan mungkin bukan bahagia tetapi hanya takut berhenti.

saat berjalan berdua, arah yang dilalui harus disetujui bersama dan keegoisan harus diredam dan memilih arah yang terbaik. adakalanya semua tidak tercapai dan terpaksa berhenti dan memaksakan terus berjalan dengan arah masing-masing.
saat ego mengalahkan semuanya dan berhenti sesaat, berbicara apakah jalan yang terbaik? terkadang tidak. membuat suatu siklus baru dan entahlah apakah itu bahagia atau takut berhenti.

dia diam, diapun diam.
dia tertawa, diapun tertawa.
dia menangis, diapun menangis.
melakukan hal yang sama.
siapa yang menjadi penengah? hanya ego yang menjadi penengah.
rumit memang tetapi bahagia atau kasih sayang? dua-duanya jelas berbeda.

terus berjalan atau berhenti?
lihat dan rasakanlah!

Monday, July 6, 2009

I Wish I Could...

Seandainya gue bisa kembali ke umur 4 tahun dimana cuman ada gue,angga,razak dan permainan. Bermain ga ada henti ampe cape menyuruh berhenti sejenak lalu bermain lagi.

Seandainya gue bisa balik ke masa SD waktu di medan. Gue maen engklek,maen karet,maen petak umpet,jajanan enak bener. Sekolah tempat pelarian dari cici-cici yang doyan ngomel dulu.

Seandainya gue bisa balik masa SMP bareng fanie,ghiz,creez yang di filipin,sharon badak,kelas 3B,hebeng,semuanya. Masa-masa paling susah dibilangin gue. Keluar masuk kantor guru,bikin onar ama temen-temen sekelas yang laen supaya guru gada yang masuk,ngunciin guru dari dalem jadi ga masuk deh dia,ngejekin guru,cabut,ketawa-ketawa,nyanyi-nyayi,hidup itu hura-hura deh.

Seandainya gue bisa ulang masa-masa SMA di presiden. Asrama,ketemu temen-temen yg mantap,ketemu pacar (yg skrg udh jd mantan),guru-guru yang aneh,kaka kelas yang okelah,penjaga asrama serem,hukumannya juga serem. Gue awal-awal masuk di B-05 bareng denita,arlin ama yanti trus gue sekamar ma yanti. Awalnya kita semua emang perlu untuk beradaptasi jadi pertamanya mungkin agak sulit kali yaa tapi lama-lama kita jadi kompak banget ko. Masa-masa bahagia gue waktu di B-05. Kemana-mana bareng,tukang telat,AC kamar harus di turboin terus supaya dingin trus diperbaiki jadi dingin bener tanpa perlu diturbo,suka bikin video-video ga jelas,suka mengkhayal jadi penyanyila,ampe pernah kamar gue diprotes sama kaka kelas gara-gara suka masang radio kenceng banget,pernah dimusuin 1 angkatan kaka kelas,suka ngerjain orang,suka ga mandi,suka ngabur. Disitu juga gue ketemu sama dhena. Sempet lama jadiannya ma dia tapi emang harus pisah gara-gara agama. great memories with him.

Seandainya gue ga harus pindah ke rumah lagi dan pindah ke 26 mungkin akan menjadi 3 tahun ngga terlupakan untuk gue dan gue ga akan melihat semua kejadian yang ada sekarang. Masa-masa di 26 juga asik ko waktu kelas 3 nya aja tapi.

Seandainya gue bisa mengulang semua kejadian disaat gue masih deket ma ocha dan gue ga membesarkan masalah yang terjadi dan gue ga memikirkan hal jelek tentang dia dan gue ga menjauh dari dia, semuanya ga akan kayak gini. we were bestfriend. semuanya salah gue dan gara-gara gue. the one i can rely on,she was. terlalu banyak yang gue lewatin ma dia. sekarang gue cuman memetik dari kesalahan gue dan mencoba untuk berdiri sendiri. ampe ketemu beberapa tahun lagi ya,cha. gatau akan seperti kita nantinya.

Seandainya gue ngga melihat semuanya sekarang.
Seandainya gue bisa menentukan arah dari awal.
Seandainya gue tau apa yang gue mau dari awal.
Seandainya sekarang gue ga harus bingung untuk jalan ma alfi.
Seandainya sekarang ngga ada masalah dengan keluarga alfi.
Seandainya mobil gue ga dijual.
Seandainya sekarang gue bisa minta apa yang gue mau tanpa mikirin ada duit ato ga.
Seandainya mama papa ngga diambang perceraian.
Seandainya sekarang keadaan rumah tentram mungkin gue ga akan mau ngekos dan kuliah di bandung.
Seandainya gue bisa punya sahabat lain lagi.
Seandainya gue bisa ngga merasa sendiri.
Seandainya keluarga gue ngga perlu pindah ke jakarta.
Seandainya gue bisa dengan mudah melupakan.
Seandainya gue bukan anak keempat.
Seandainya ga ada paguh yang sekarang ngebuat gue jadi ga tega untuk ninggalin rumah.
Seandainya gue ga perlu menjadi dewasa.
Seandainya gue bisa mencintai dengan bebas dari dulu.
Seandainya gue bisa terbang dan ngga perlu menangis.

Seandainya gue ga perlu dilahirkan.

Seandainyaa....

Wednesday, July 1, 2009

Lumpuh

Ucapan halus menjadi teriakan.
Senyum tipis menjadi tangisan.
Kekuatan terkikis perlahan.
Berdiri tegak dan tertunduk.

Terus bertanya mengapa waktu berputar mengarah kepada aku?
Mengapa pada saat berada di aku-aku yang lain, waktu dapat berhenti sejenak?

Jarum itu berhenti mengarah kepadaku seakan aku penjahat yang harus dihukum.
Memberikan pacungnya kepadaku sehinga aku hanya bisa menerima tanpa berargumen.

Sekuat tenaga melawan.
Sekuat tenaga berpikir.
Sekuat tenaga mengeluarkan tenaga.
Aku hanya bisa diam, tertunduk dan menangis.
Kukira aku bisa berdiri lalu berjalan ternyata aku salah.
Aku hanya duduk.
Aku tak pernah bergerak ataupun beranjak.
Ternyata aku hanya seorang yang lumpuh.

Lost in Feeling

Ingin pulang.
Ingin berada di kawasan aman.
Ingin tetap tenang di dalam siklusnya.
Ingin berbaring dan tetap diam.
Terkadang tetap ingin berteriak, berlari dan hujan-hujanan.

Berada di kegelapan bawah tanah.
Tersesat di sebuah labirin hidup.
Mencari sebuah baru di samudera.
Memikirkan sebuah strategi untuk menjatuhkan liberty.
Mencari kawanan yang tak berada di dalam sebuah pilihan.

Muak mengejar sesuatu.
Muak berpikir.
Muak acuh tak acuh.
Muak mencari jalan keluar.
Muak terus berdiri.
Muak terus menatap lurus.
Muak dengan bising.
Muak dengan perputaran.
Muak dengan perjuangan.
Muak dengan pernyataan dan pertanyaan.
Muak dengan ketidaktahuan.
Muak dengan cinta.
Muak dengan diri ini.
Muak menjalani hidup.

Ingin kembali sendiri menghadapi semuanya.
Ingin tak ada yang memperhatikan.
Ingin diam saja sebentar.
Tak perlu oranglain, diri sendiri sudah lebih dari cukup.

Thursday, June 4, 2009

in the middle

satu hari mempertaruhkan segalanya.
2 tahun hidup dalam kebimbangan.
2 tahun hidup dalam ketidakpastian.
berusaha untuk sesuatu yang tak mngkin.
berusaha memberikan yang terbaik tapi tak ada yang terbaik.

Berharap tapi tak datang.
Ketakutan selalu mengahantui setiap perasaan yang datang.
Aku,aku dan selalu aku.
Panggil saja yang lain.
Biarkan aku berdiri dan menghirup udara sejenak.
Hanya sebentar saja.

Monday, May 18, 2009

hilang

ditinggalkan.
disaat menumpuk semuanya pergi.
disaat diam, dia diam.
disaat berisik, dia berisik.
saat air mata jatuh, dia menambahnya.
disaat sesal datang, dia menambahnya.
kalau memang harus hilang, silahkan.

pergi.
semuanya memang harus kembali kepada awal.
tidak ada akhir.
akhir adalah awal.

disaat rasa membengkak dan ingin berteriak, dia tidak pernah ada.
disaat susah melepaskan, dia pergi.
disaat semuanya indah, indah tak ada.

menambah kebingungan.
menambah jam kelelahan.
terus berpikir dan berpikir, harus bagaimana?

tak ada penyelesaian dari aku sendiri.
tak tau kapan akhir ini semua.
kita bersama menunggu untuk ketidakjelasan.
pergilah kalau memang harus pergi.
bukan karena kita tapi karena aku.

Sunday, May 17, 2009

untitled

semuanya datang dan pergi.
datang sangat lama dan akhirnya harus pergi.
mengumandangkan perjuangan tetapi tak pernah berjuang.
lelah tanpa berjuang.
bertahan dari perjuangan.

hanya belum waktunya untuk diutarakan.
tali itu masih terlalu tipis.
kekurangan dan keanehan menghantui.
ingin mengakhiri semua tetapi tak boleh.
penerimaan yang indah saat diucapkan.

berikan suatu ketenangan saat gemerincing terus berbunyi.
berikan suatu kedamaian saat diam itu datang.
bukan kesabaran tetapi pengertian.

berhenti untuk bersabar tetapi tolonglah untuk melihat.
tak mudah menjalani beberapa kehidupan.
tak mudah menjalaninya sendiri.

hidup mencakup segalanya.
tak mungkin dipisah dari satu sama lain, tak mungkin.

sunday night

mencoba dan terus mencoba.
mencoba bertahan dari perang yang terjadi.
bersembunyi dari tempat persembunyian.
menutup telinga dari suara tembakan.
terus memutar otak untuk mencari perdamaian.

berjalan dan berlari hingga berkejaran dengan waktu.
kaki tak dapat berhenti untuk mencari tempat persembunyian.
kaki terus mencari tempat berpijak.
hingga tak sempat untuk terlelap.

ketakutan selalu datang saat tertangkap dengan panglima perang.
was-was saat berbicara dengan panglima perang.
bergidik tajam saat setiap kata darinya terlontar.
terus memutar otak untuk mencari perdamaian.

perang yang tak seharusnya terjadi.
perang yang hanya karena ketamakan.
perang yang hanya karena kekelaman.
perang karena ego.

berusaha untuk berdamai tetapi tak bisa.
mereka mengatakannya seperti itu.
dan perang terus terjadi.

prajurit selalu menjadi korban kematian.
panglima perang tak pernah perduli akan prajuritnya.
bukan hanya masalah perut atau kantong sebenarnya.
masalah hidup dan mati sebenarnya.

terus memaksa prajurit untuk berlatih.
hanya berlatih sampai mati.
melibatkan prajurit tetapi tak pernah dianggap.
intinya,prajurit hanya mendengar omong kosong panglima lalu terbunuh.

malangnya nasib prajurit karena tak ada yg mengerti.
prajurit hanya menjalankan perintah dan rela untuk mati.
semua berpusat kepada panglima dan prajurit mati perlahan-lahan.
selamat tinggal!

Monday, May 4, 2009

another side of this part

Semuanya baik-baik dan kebetulan saja.
Semuanya hanya perkiraan.
Semuanya hanya terjadi.

Bermula entah kapan dan entah bagaimana.
Bingung saat dihadapkan kepada sebuah kebenaran.
Kegilaan pertama dan mutlak.
Bertahun-tahun sudah.

Diberikan suatu jawaban dari oranglain.
Oranglain yang memang tak brarti dan tak ada di hidupku tapi ada yang berbeda.

Perbedaan besar baru saja bangun tapi aku tak sadar.
Dia yang membangunkan dengan semua pertanyaan.

Bukan perasaan indah.
Bukan perasaan romantis.

Perasaan takut dan gelisah.
Perasaan menolak tetapi terus datang.

Tetap bertanya dan tiada henti pertanyaan datang.
Memutar otak tetapi tak ada jawaban disana.
Berdoa dan bertelut mengharapkan jawaban.
1 jawaban : ikhlas.

tak berarti menjadi sangat berarti saat bersyukur.
Bersyukur untuk semua yang didapat.
Bersyukur untuk kelebihan yg aneh.
Untuk semua keanehan, sudah kusyukuri.
Dia ada di prputaran hidup sekarang.

Friday, May 1, 2009

feeling connected

Lagi ngobrol, nongkring, ketawa-ketawa.
Tiba-tiba perasaan ga sesuai dgn tindakan.
Panik, gelisah, takut.
Jantung berdegup jauh lebih cepet.
Bahkan menangis bersama dengan perasaan asli berbeda.

Langsung ambil handphone.
Mengetik sesuatu di ym atau sms.
"Lo kenapa? Something wrong?"
Dikirim.

Ga lama balasannya datang.
"Gue kenapa-kenapa. Tolong gue!"

Ngautis di depan hp ampe semuanya fine.
Being a great listener and reader.
Hanya itu. Jalur hidup sedikit bertambah.

Friday, April 3, 2009

April, 3rd 2009. fly.

Aku hanya seorang yang rentan, takut menghadapi kenyataan pahit, mencoba selalu lari dari masalah. Aku yang ramai mempunyai hati yang pendiam. Aku menghadapi kegalauan, Aku mengahadapi semuanya sendiri.

Tanggal 1 April 2009. Puncak dari segalanya.
Aku menangis di pelukan sahabatku. Aku berteriak di depan mukanya. Aku mengumpat di depan mukanya. Dia memelukku.
Malam yang panjang yang bisa membuatku tak sadarkan diri. Muntahku, umpatku, tangisku, sendiriku rasanya keluar semuanya. Aku jatuh, tersungkur ke bagian yang paling dalam. Tak kuat untuk berdiri dan memanjat. Tiba-tiba datang seorang malaikat yang memeberikan sayap untuk aku terbang ke atas tetapi dia pergi dan membuat sayap itu tak berguna karena aku tak tau cara untuk terbang.

Meminta tolong tetapi tidak ada yang mendengar. Berteriak tetapi tidak ada yang peduli. Mengumpat tetapi dilempari batu. Jatuh dan tak berdaya. Selalu belajar untuk terbang tetapi aku kelelahan dan terjatuh lagi. Malaikat itu hanya berkata terbang dan sayap itu akan mengikutimu. Aku tak mengerti.

Jurang ini aku lihat, kutelusuri. Ternyata ada oranglain yang kukenal. Dulu orang-orang itu iri melihat kebahagiaan yang aku punya dan aku bangga akan itu. Sekarang orang itu sudah punya kekuatan untuk memanjat sementara aku mempunyai sayap untuk terbang. Aku tidak berguna begitu juga sayap itu. Tertunduk lemas kepalaku karena orang itu akan pergi dari tempat ini.

Aku menyerah. Aku ingin mati bersama di jurang ini. Aku pasrah untuk dibunuh disini. Aku siap selalu dilempari batu. Aku ikhlas untuk sendiri. Aku akan menghadapi semuanya sendiri. Tetapi tak akan pernah aku berikan sayap itu kepada oranglain. Tak akan! Dan semuanya akan aku jalani sendiri.

Malaikat itu berjanji akan kembali untuk mengajariku.

Saturday, March 21, 2009

For The 3rd sister of mine

i know you're in dillema.
i know you mad about this things.
i know you're in trouble, difficulties.
i know your heart beat faster cause you don't know which one.
i know you miss all of us.
i know you miss the old time, a time shouldn't has an end.

you with your family.
you have your responsibility.
make no expired date for your love.
create your own love.

you don't have to be worry.
everything in here gonna be fine like usual.
we both know things are not going so good.
we both know our family isn't in the safe zone.
we both know bad things are happening.
we both know a time like this we should be together but we already into it.
we still together, not distancely.

just click pause on your life's remote.
take a very deep breath. scream out loud.
click play and act like nothing happened.
make a quick relaxing.

life is walking their way.
you have to walk on it cause you are life.
life won't wait till you ready.
life is changing so, you can't go to the past.
enjoy your life because that's the only option.
enjoy it and make it like you want.
the rules is yours.

don't think something out of your world too much.
you've done something bigger than this.
you've done a very struggle way and you can out of it.
i know you're stronger than your problem and your mind's play of life.

we've been together for more than 18years.
you're my craziest sister.
you're my funkiest sister.
you're my sister and you're my everything.
out of your mind's play and face it step by step.
show the world how crazy you are cause I know,you as a designer has thousands way so you have a thousand creative way to escape.
whatever happen,you are still my role model.
you are the best sister ever and hope it will never has an end.
love you ci. take care!

you are great in so many ways!
think carefully before you speak it or act.

Friday, March 20, 2009

done

Sesuatu yang kosong bisa saja terisi ataupun memang tidak untuk diisi dan sesuatu yang terlalu penuh memang tidak akan bisa terisi lagi. Buat apa mengisi sesuatu yang memang tidak bisa diisi lagi? Useless.

Bukan melupakan yang lama tetapi melihat kembali apa yang sudah diisi. Apakah itu benar-benar terisi atau tidak, atau ternyata terisi terlalu penuh?

Entah,mungkin terlalu penuh sehingga sudah tak bisa terisi lagi. Tak ada yang bisa dibagi lagi dan tak ada yang perlu didengar. Suatu kesalahan kecil mungkin tapi membuat semuanya kosong. Tak mau tau lagi dan berhenti untuk peduli. Berhenti menjadi bayang-bayang dan berhenti untuk melangkah. Pergi saja. Itu sudah lebih dari cukup. Mungkin nanti bisa diisi lagi. Mungkin nanti.

Mengisi bukan asal mengisi tapi terisi dengan indah. Bukan karena kesempurnaan tetapi karena kekurangan. Mungkin nanti bukan sekarang. Sudah terlalu penuh.

Wednesday, March 4, 2009

mereka. sahabat.

Sepuluh hari berlalu.
Berada di kota tempatku bertumbuh.
Kota kecil yang mulai berkembang.
Kota yang semakin ramai.
Kota yang indah.
Sebuah kota yang selalu membuat mesin waktuku berjalan.

Mesin-mesin itu mulai mulai menyala.
Jejak-jejak langkah mulai tampak.
Monitor-monitor masa lalu mulai bermunculan.
Aku berjalan perlahan.
Mundur tahap demi tahap.

Lonceng pagi yang menandakan saatnya masuk kelas tak pernah kudengar karena hobby terlambatku yang sangat parah.
Tak pernah jera dimarahi.
Tak pernah kapok dengan hukuman.
Tak pernah kusedih ataupun bersungut karenanya.
Aku bahagia. Tak mengerti apa yang akan terjadi atau apa yang sedang terjadi di luar sana. Kepolosan dan keluguan yang pernah singgah.

Aku bermain, belajar sambil bermain dan terus bermain.
Tidak pernah absen satu kalipun untuk duduk di ayunan biru itu.
Tidak pernah menolak bermain perosotan.
Tidak pernah mau kehilangan taman bermainku. Selalu.

2 tahun kulalui taman kanak-kanak karena ibuku melarangku untuk melanjutkan SD di usia 6 tahun. Menurut dia, aku masih terlalu kecil. Entahla, katanya begitu.

Tak sia-sia 2 tahun kulewati.
Tak pernah kusesali hal itu.
Tak pernah kumarah karenanya.
Karena aku bermain.

Tarikan magnet yang membuat perasaan sedih dan marah hilang.
Sampai semuanya jelas bahwa aku bahagia berada 1 tahun lebih lama di tempat itu.
Lebih bahagia dan jauh lebih bahagia di tempat itu.

Guruku sering mengajak kami bernyanyi. Entah lagu apa. Aku lupa.
Dan guruku juga sering menyuruh kami menggambar.
Pada siang hari, kami disuruh menggambar bunga tetapi bukan bunga yang kugambar, yg kugambar hanya oret-oretan yang tak berbentuk. Guruku datang dan memeriksa kertas gambarku. Diambilnya pensil dan digenggamkannya di tanganku. Perlahan dia membuat jemariku menari. Perlahan membuat tarian itu berbentuk. Perlahan tarian itu menjadi keindahan. Keindahan gambar bunga yang pertama kali kubuat. Saat itu yang paling kuingat.

Beberapa lama berlalu dan aku tidak ingat kapan tepatnya. Guruku yang memberikan tarian pada jemariku, yang membuat keindahan di genggamanku telah tiada. Tepatnya di suatu siang di saat perjalanan pulang ke rumah sehabis mengajar kami di sekola. Entah karena apa. Aku tak mengerti.

Mesin waktu itu terus berputar dan terus berputar. Memberikan cuplikan-cuplikan indah di saatku kanak-kanak. Memberikan tawa dan haru yang tak bisa kubendung. Tak ada rasa takut yang terjadi. Hanya di sekolah itu aku merasakan bahwa sunyi sedang diam menungguku di rumah. Aku merasakan bahwa sunyi memberikanku kebebasan saat di sekolah. Oleh karena itu, tak pernah kuingin pergi dari sekolah itu.

Taman kanak-kanak hingga sekolah dasar pun kulalui bersama mereka. Aku menumpahkan bekalku sendiri di hari pertama, datang terlambat di hari pertama, membuat keributan, marah dan tawa yang kubagi, persahabatan yang indah kulalui bersama mereka, waktu yang tak dapat dibeli. Terlalu berharga.

Tak lama aku mengalami masa berharga itu. Hanya sebentar karena waktu yang membuat semua itu berhenti. Berhenti hanya untukku saja. Waktu yang membuat semuanya harus kutangisi. Tak bisa kusalahi siapapun. Aku masih terlalu kecil untuk memberontak. Aku masih terlalu kecil untuk berdiri sendiri. Aku pindah dan tak bertemu dengan mereka beberapa tahun.

8 tahun terlalu singkat untuk dirasakan. Teman-teman baru yang dekat denganku sudah kudapat tapi masih tetap cuplikan itu datang dan pergi. Aku bertemu dengan mereka tiba-tiba. Bertemu dengan sahabat-sahabatku semasa kecil. Melalui dunia maya yang tak kuduga-duga dan akhirnyapun aku bertemu dengan mereka. Teman-teman baik ku semasa kecil.

Tak kuduga pertemuan itu begitu melekat. Bukan karena waktu yang begitu lama tapi keapaadaan yang mereka terima. Tinggal di kota itu membuat pemikiran orang-orang disitu begitu sempit sehingga membuat pemikiran merekapun begitu. Kota kecil memang sehingga membuatku mengerti. Kekuranganku karena sudah terlau lama tinggal di kota besar ini. Membuat perbedaan yang cukup besar di antara kami. 1 perbedaan kecil sederhana yang membuat semuanya begitu besar. Kubuka kekuranganku di hadapan mereka. Di hadapan sahabat-sahabat semasa kecilku.

Kupikir penolakan yang mereka berikan. Awal yang membuatku takut. Awal yang memberikan perbedaan besar. Kubuka semua tentangku. Kuceritakan aku yang ternyata bertolak belakang dengan mereka. Takut kumemulai. Berakhir dengan mereka tersenyum. Kutahu mereka tak suka tapi mereka menerima. Penerimaan yang begitu berharga. Mereka merangkul sahabat mereka dan berjalan bersamanya. Tetap seperti dulu dan tetap tertawa bersama. Membuat sebuah janji konyol diantara kami. Memutar cuplikan-cuplikan indah kami. Kami sudah dewasa dan menjadikan kekurangan itu sempurna.

Hubungan yang timbul tenggelam tidak menjadi halangan kami berjalan. Aku tau persahabatan itu timbul saat kami kecil dan pelajaran paling berharga bagiku. Indah saat mereka ternyata masih menggenggam tanganku. Sahabat memang harus bisa menerima kekurangan untuk kesempurnaan. Mereka bukan sahabat semasa kecilku tetapi sahabatku hingga hari ini, besok dan nanti.Sahabat yang paling berarti. Mereka.

Saturday, February 7, 2009

love life

Cinta itu setia, pengorbanan, kesabaran.

Tapi ga ada keikhlasan tidak ada cinta.

Cinta adalah keikhlasan.
Ikhlas menerima apapun yang terjadi.
Ikhlas menghadapi segalanya.
Ikhlas dengan semua kesetiaan.
Ikhlas dengan semua pengorbanan.
Ikhlas dengan semua kesabaran.
Ikhlas mencintai.
Ikhlas memaafkan.
Ikhlas tidak akan mendatangkan dendam.
Ikhlas pasti bersukacita.

Thanks GOD for everything has down to me for bad and good times.
Terima kasih karena Sahabatku memberikan suatu bab yang baru dalam buku ku yaitu suatu ulasan mengenai keikhlasan.

Monday, February 2, 2009

something affordable

Daun-daun berguguran terbawa angin tanpa arah. Arah hanyalah suatu kata ambigu yang tak bermakna yang hanya memberikan suatu perhentian. Daun menikmati hidupnya bersama angin. Berirama. Beriringan. Penuh cinta. Bebas. Awan selalu memberikan perlindungan yang paling dahsyat untuk mahluk hidup yang selalu merugikannya. Awan bebas mencintai bahkan dia bebas mencintai mahluk-mahluk yang akan membunuhnya. Indah memberikan senyum kepada pembenci. Indah memberikan perlindungan kepada perusak. Indah bisa bebas. Burung-burung terbang bebas di angkasa menanti lawannya menantang. Mengepak sayapnya memberikan kebebasan kepada yang melihatnya. Dengan gagahnya dia menyongsong mentari. Dengan sombongnya dia memamerkan sayapnya. Tiada henti. Penuh keyakinan. Mereka gembira. Mereka bernyanyi di saat matahari terbit. Mereka bebas.

Itu aku. Mereka semua adalah aku. Mereka adalah bagian diriku. Tidak ada yang sebahagia aku. Tidak ada yang sebebas aku. Aku bebas tanpa arah. Aku bebas terbang bersama angin. Aku bebas mencintai. Aku bebas menantang. Aku penuh percaya diri. Aku senang. Aku gembira. Aku bebas.

Tertawa aku. Hinanya aku. Kegilaan yang tiada taranya. Aku hanya menipumu saja. Aku bukanlah kawanan daun yang berguguran. Aku bukanlah segumpulan awan. Aku bukanlah segerombolan burung. Aku menipumu, kawan. Aku hanyalah lawan dari bebas. Aku mencari bebas tapi tak pernah kutemukan. Aku hanyalah daun yang kering. Aku adalah awan yang hitam yang hanya menimbulkan penyakit. Aku adalah burung yang sudah diburuh. Aku tak bisa tanpa arah. Aku tak bisa bebas mencintai. Aku tak bisa bebas melawan. Aku tak bisa bebas mengepakkan sayap. Aku harus berhenti dengan arah. Bebas bukanlah aku. Silahkan tertawa sepuasmu!
03-04-06. 03.44am.

Aku terbangun kaget dari tidurku yg lelap. Mencari gelisah handphone temanku yang saat itu sedang kupinjam. Melihat ada beberapa pesan singkat dan beberapa panggilan tak terjawab. Semua itu berasal dari 1 orang yang dengan gelisah menanti jawabanku. Mengetik cepat sebuah pesan singkat yang seharusnya sudah kubalas dari pukul 00.00. Pesan itu berisi :
" Boooodhhhiii..... Sori baru bales. Gue tadi ketiduran.
Iya gue mau jadi pacar lo. Gue juga sayang ma lo. "

Langsung kukirim pesan itu. Kulihat pesan terkirim dan aku tersenyum karenanya. Beberapa menit kemudian kudengar ada sebuah pesan masuk. Kuambil handphone dan kubuka pesan itu. Pesan itu ternyata dari Bodhi. Pesan itu berisi :
" Makasi ya lo mau jadi pacar gue. Gue sayang ma lo.
Lo tidur aja lagi. Good nite."

Tersenyum kumembacanya dan langsung kubalas :
" Oke. Gue tidur dulu ya. Lo juga tidur ya.
Nite nite."

Pesan terkirim. Langsung kumemejamkan mata dan tertidur lelap. Segaris tipis senyuman mengungkapkan hatiku yang sedang bergemuruh. Indah.

Pesan singkat. Seseorang yang menungguku untuk menjawab perasaan hatinya. Dia mengungkapkan saat kami sedang berjalan berdua. Bukan suatu pengungkapan yang romantis tetapi suatu yang berarti. Dia mengatakannya di depan mataku. Mengatakan dengan berani. Meminta tanpa memaksa. Menanyakan dengan tulus.

Aku memulai sesuatu lembaran baru menutup rapat-rapat lembar sebelumnya. Aku dan dia berkomitmen untuk memulai dan menghadapi semuanya berdua. Aku belajar untuk beradaptasi dengan kebersamaan. Dia mengajariku tentang kebersamaan. Dia memberikan keyakinan kepadaku. Aku mencintainya. Aku rasakan itu dan pertama kali aku melihat hal itu begitu nyata.

Kebahagiaan begitu cepat berlalu. Kebersamaan terlalu cepat beradaptasi. Semua itu meninggalkan bekas yang dalam yang sangat sukar hilang. Bukan seperti jejak kaki yang dapat dihapus oleh kawanan ombak dan gerombolan pasir. Bekas itu begitu nyata lebih nyata dari yang kurasalan sebelumnya.

Satu tahun 4 bulan. 5 Agustus 2007.
Tak lama hal itu singgah. Terlalu cepat sehingga membuatku mencoba untuk menahannya. Terlalu cepat membuatku semakin haus dan lapar. Kuingin kebahagiaan itu. Kuingin semuanya kembali. 1 Sahabat tetapi manusia yang memisahkan. Terlalu besar jurang yang harus kami lalui. Terlalu luas laut untuk kami sebrang. Terlalu tinggi gunung untuk kami naiki. Terlalu hebat badai itu. Terlalu bergemuruh ombak itu. Maaf tak bisa kulalui itu semua dan aku yakin kamupun tak bisa.

Kita harus menggunting paksa tali yang mengikatkan kita.
Kita harus membakar semua hadiah itu.
Kita harus melupakan dan terus melangkah.

Hampir 2 tahun.
Bekas itu belum hilang.
Gunting itu tumpul. Tali itu tidak benar-benar lepas.
Hadiah itu belum habis terbakar.
Tak hanya kata melupakan dapat mengobatinya.
Dengan melangkah tidak dapat menghapus jejakmu.

Aku disini terduduk manis melihat hadiah yang tak pernah hangus terbakar.
Aku mencoba mengikatkan tali itu tapi sudah terlalu tipis untuk dikaitkan.
Aku selalu setia menemani jejak langkahmu yang tertinggal.

Bekas itu aku kunci rapat. Tak ingin bekas itu hilang.
Belum kutemukan kunci yang dapat membukanya dan menutupnya bersih.

Walaupun bukan dia tetapi aku ingin dia.
Selamanya dia berada di jejak itu.
Selamanya menemaniku menatap hadiah yang telah hangus terbakar.
Selamanya terikat oleh tali itu.

Aku ingin melewatinya sama kamu. Selamanya.
Selamanya. Selamanya. Selamanya.






* Thanks for the inspiration

Saturday, January 31, 2009

for only an hour

I met her.

Suatu janji yang perlahan terukir saat pertama kali membaca bukunya. Suatu janji yang baru saja aku langgar. Tidak seharusnya aku bertemu dengannya dengan cara seperti itu.

Kekikukan terjadi. Banyak ingin kuungkap tapi tak ada yang keluar. Hanya 2-3 kata terucap membuat kebingungan. Tak ada tawa dan senyum di bibirku. Hanya ingin semua itu cepat selesai. Membuatku membungkuk dengan murah.

" Maaf, bukunya ketinggalan. "
" Ngga, disitu aja. "
" Iya. "

1 hal yang baru kusadari. Kubiarkan dia menorehkan langsung di halaman paling terakhir di matahariku. Halaman yang penuh dengan hidup dan mimpiku. Halaman yang mengisi hidupku sejauh ini. Aku melarangnya membuka halaman depan tetapi membiarkannya masuk ke dalam duniaku dan matahariku. Mengisinya dengan warna yang sama dengan yang ada di halaman itu. Dia benar-benar masuk di dalamnya. Ke dalam hidupku.

Ada 4 kata yang dia tulis : " Have a great life "
Entah apa yang dia pikir dengan menulis itu. Mengapa begitu masuk ke dalamnya. Mengapa begitu menyatu. Apa memang itu suatu tulisan hafalan yang dia tuliskan ke semuanya? Masih tak mengerti dengan 4 kata itu. Dia sepertinya bisa membaca sesuatu dari segelintir sesuatu disana. Apa dengan 4 kata itu bisa membuatku mendapatkan pernyataan dari pertanyaan 4 kata itu? 4 kata yang masih menjadi pertanyaan untukku tapi sangat menyatu dengan segalanya.

Aku ingin tau dari dia. " Have a great life ".
Terima Kasih untuk 4 kata itu. Baru dia yang memberikan kata-kata itu untukku.

Friday, January 30, 2009

2 Januari 2009, 02.16 AM

" Biarkan aku mempunyai damaiku sendiri"

2 hari di 2009. Biasa. Memulai suatu buku baru.
Belum ada kata pengantar. Daftar isi yang akan terus bertambah dan berkurang.

Living in this world. Full of perceptions and judges.
Wanna out from that world. Living in my own world.
I don't care about politics and those thing called "ideology".
I live on what i believe in.

" Menjalankan di saat terang
Merasakan di saat gelap
Terang memberikan kekelaman
Gelap membawa cahaya "

Terus melihat terang membuat tidak bisa melihat gelap.
Terus melihat gelap membuat tidak bisa melihat terang.
Harus memilih antara kedua hal itu.
Tak ada yang samar. Tak ada yang abu-abu.

Membiarkan oranglain tampil apa adanya membuatku apa adanya.
Transparan. Indah saat orang-orang tak perlu memakai topeng dan tameng yang menjadi penutp. Bahkan untuk cinta sekalipun. Bahkan di hadapan Tuhan sekalipun.

Tuhan sahabatku, keluargaku, segalaku.
Aku tak ingin jadi pengikut-Mu ataupun umat-Mu. Aku ingin berjalan di samping-Mu. Kita saling merangkul dan bercakap-cakap. Saat aku lelah, Engkau menggedong aku dan saat Engkau lelah, aku menggendong-Mu. Kita saling percaya. Engkau bercerita kepadaku dan akupun begitu. Tawa dan sedih bersama.

Mencoba membuat segalanya lebih mungkin. Lebih masuk ke dalam jiwa.

" Hanya ingin diam. Hening
Merasakan kesendirianku
Aku mencintai keheningan
Aku nyaman dengan diam
Aku menikmati sendiriku "

Thursday, January 29, 2009

seseorang

Malam yang seharusnya indah. Malam perpisahan yang patut dikenang.

Seseorang yang cantik, anggun, baik, sombong, angkuh, yang sangat kucintai sekaligus kubenci.

Seseorang yang menghidupiku, yang merawatku, yang memberiku nafas, orang pertama yang mendengar tangisan pertamaku, yang memberikan penyesalan.

Seseorang yang mampu membuatku melayang dan terjatuh sekaligus.

Seseorang yang terlalu mahal untuk menunduk dan membungkuk.

Seseorang yang membentuk karakterku.

Seseorang tempat aku mengadu, menangis, bercerita dan orang yang kuumpat.

Mencoba kuikhlas tapi tak ada senyum.

Memberikan yang terbaik tapi hanya menganggapku sama.

Mengerti aku, mengapa mereka yang sedarah denganku menjadi kehilangan kendali dalam kapalnya hingga melenceng dari jalurnya dan menjadi sebuah ceret yang meletup-letup. Mengumpat aku kepada mereka, ternyata aku sama dengan mereka.

Seseorang yang membangunkan aku dengan teriakannya dalam mimpi indahku, memaksaku untuk hidup bersahabat dengan mimpi buruknya.

Waktu begitu cepat.
Ingin mengulang waktu di saat semuanya begitu indah, disaat aku masih tertidur lelap dan tak ada yang membangunkan aku. Membiarkan aku bermimpi indah sampai kematangan datang kepadaku dan berkata, " Dia sudah siap". Semuanya seperti bergilir. Mereka dihampiri saat mereka bersama dengan kedewasaan yang pas. Tidak pas kematangan berbicara kepadaku sehingga tidak ada tawar menawar dengan kedewasaan. Membuatku terdiam mendengar pembicaraan itu. Membisukan pikiran dan jiwaku. Menekan tombol pause kepada hidupku, memainkannya sehingga membuatku berjalan dalam permainannya yg hanya mempermainkanku.

Goresan demi goresan yang tercoreh membuat semua itu harus dijahit tetapi jahitan itu tidak pernah kering dan akan membekas. Setiap amarah yang timbul tidak pernah terselesaikan membuat semuanya membengkak dan siap diledakkan. Entah siapa yang selalu bisa membedakan kabel yang dapat mematikan bom itu. Menunjuk dirinya masing-masing. Tidak bisa mengerti karena memang semuanya sudah berubah.

Tak ada senyumnya. Tak ada pelukan hangatnya. Tak ada belaian lembutnya. Tak ada kecupan yang brarti. Tak ada hal yang ada di mimpiku.

Tak bisa membedakan kenyataan dan mimpi. Yang mana kenyataan?

Friday, January 2, 2009

Kisah Klasik

sama. berubah.

tidak bisa merasakan itu semua lagi dan mungkin belum saatnya. obrolan panjang tetapi singkat. tampaknya aku butuh seorang psikiater. aku membutuhkan seseorang yg dapat menolongku. aku runtuh. terkikis pasrah. aku jatuh. aku berdamai dengan damai tetapi sepertinya damai belum kurasakan. aku senang. aku takut. aku berdamai dengan damai tetapi semakin banyak pertanyaan aku dengan damai. aku sibuk dengan sendiriku, dengan duniaku. terlalu sibuk. menangis tetapi tak pernah ada yg mengerti mengapa. tertawa tetapi tak ada yang merasa lucu. berbicara tetapi tidak ada yang mengerti. aku bertanya tak ada yang bisa menjawab.

Ketidak sempurnaan membuat manusia bergantung. Ketidakberdayaan membuat manusia meminta tlng. Ketiadaan membuat manusia mencari. Kekurangan membuat manusia berusaha.

Manusia memang saling membutuhkan tetapi bagaimana oranglain tidak ada yang mengerti apa yang aku butuhkan. Aku membutuhkan lebih dari seorang pendengar. Aku membutuhkan lebih dari seorang penasehat. Aku membutuhkan lebih dari kebenaran. Aku membutuhkan lebih dari pertanyaan. Aku membutuhkan lebih dari pernyataan. Aku sangat membutuhkan jawaban dan kejujuran. Jawaban dari ketidaksempurnaan, ketidakberdayaan, ketiadaan, kekurangan. Jawaban dari semua ego umat manusia yang pada akhirnya hanya bisa diam. Kejujuran dari semuanya.

Jam 05 pagi skrg dan aku tak bisa tidur hanya karena perasaan konyol ini. Akhirnya aku dapatkan apa itu. Aku tau apa itu. 1 jam obrolan yang sangat berarti ternyata. Bukan hanya brdamai dengan damai tetapi mngerti perasaan ini. Perasaan yang terjawab saat dia bertanya,"Setelah sebulan kita dieman, lo seneng ga si denger suara gue?". Aku terdiam dan menjawab,"Gue senengla pasti". Jawaban datar kami sepakat. Kami terwata karena kedataran yang aku buat. Entah tawa apa. Tawa mengagetkan hening mungkin. Tawa abu-abu.

Kami terlalu naif. Kami terlalu munafik. Hidup di dalam topeng dan tameng. Aku berusaha membuka itu semua. Aku membukanya. Aku memberitahunya. Aku berbicara dengannya bukan dari pikiranku tetapi akhirnya dari hatiku. Tak semua karena masih ada batasan itu yang aku tak tau apa. Aku berkata,"Kita damai" tetapi lagi-lagi topeng itu yang kupakai. "Kita damai" tetapi masih ada batasan itu. "Kita damai" tetapi hatiku tidak berdamai. "Kita damai" tetapi jiwaku gelisah. Aku masih sibuk dengan pikiranku. Aku sibuk tetapi dia diam. Aku berbelok dan dia hanya mengikuti bukan merangkulku. Aku diam, dia sibuk agar aku ikut bergerak. Entah yang mana siklusnya. Aku bingung untuk bergerak. Mungkin memang tidak ada siklus.

Berusaha kumelepas ego itu. Berusaha kumelepas keomongkosongan itu tapi tak bisa. Berusaha sekuat tenaga. Benar-benar berusaha sekeras mungkin. Bergulat aku dengan diri ini.

1 yang kuungkapkan. 1 mewakili segalanya. "Kita berdamai tetapi tidak akan pernah menjadi seseorang untuk kita sendiri lagi". Sudah kuterima tak ada sapaan lagi. Tak ada ketergantungan lagi. Tak ada cerita yang berarti lagi. Tak ada tawa dan sedih itu lagi. Tak ada percaya lagi.Tak ada hati seorang sahabat. Tak ada senyuman sahabat.

Aku egois. Memang. Aku naif dan munafik. Aku iyakan semua perkataanmu. Aku iyakan semua yang kamu rasakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan.

Aku yakinkan hanya untuk damai itu kembali padaku. Aku tak peduli ada damai itu untukmu atau tidak. Aku tak peduli lagi tapi aku peduli. Ternyata aku peduli. Ingin berteriak aku masih peduli pada sahabat kecilku. Tertawa girang bahwa aku peduli. Aku peduli.

Waktu untuk berpikir selama sebulan tak ada kontak sama sekali. Setelah aku dan dia sepakat menjadi seperti yang dulu. Tetap aku tak bisa. Entah perasaan apa itu tapi perasaan itu bukan perasaan indah. A fake plastic. Semua memori indah seperti sudah siap untuk berabu. Semua memori tak ingin kuulang tapi akan aku ingat. Akan kurindukan. Selalu.

Lebih baik kamu pergi, damaiku. Sahabat kecilku. Biarkan aku mempunyai damaiku sendiri. Hanya biarkan aku sendiri. Diam. Hening. Mencoba berdiri dari rangkakan. Mencoba bertahan di setiap perubahan. Mencoba mengikhlaskan sahabat kecilku pergi. Membiarkan sahabat kecilku bahagia dengan damainya.

Thursday, January 1, 2009

alfa dan omega

alfa sebagai permulaan.
omega sebagai akhir.

Satu buku lagi telah selesai dan akan bertambah buku yang lain lagi. Memulai sesuatu tidak mudah dan berusaha mengakhiri dgn luar biasa.

Resolusi sebagai kata pengantar.
Impian sebagai daftar isi.

" selamat menulis buku baru "