i miss the day before many days like this. hate it! pernahkah kamu ngerasa disaat ngga punya siapa2 dan disaat ga tau harus berbuat apa. bener2 ga tau. Semuanya pergi, hilang seperti ada angin topan yang membawanya pergi. Takut untuk mencurahkan karena orang hanya bisa menghakimi seolah-olah dia yang paling benar.
Semuanya sekarang mempunyai analogi yg tak bisa kumengerti. Perasaan takut buat percaya lagi sama orang karena mereka tidak akan pernah mengerti. orang yg kukira bisa mengerti ternyata tidak bisa mengerti. Manusia memang mahluk sosial yang membutuhkan oranglain tetapi terkadang lebih baik memendam semuanya sendiri. lebih indah percaya sama diriku sendiri karena tidak perlu menuntut orglain untuk mengerti.
Kesendirian yang kuperlu. Sekuat tenaga memendam segalanya. Sekuat tenaga tidak mikirin itu semua. Menghisap asap, mengeluarkannya dan melihat segalanya berbayang dengan duduk dalam kesendirian bisa jadi pelampiasan sekaligus obat sampai suatu saat ada orang yg benar2 bisa mengerti walaupun sedikit, sampai ada orang yang bisa memandang dari banyak sisi, sampai orang mengerti bahwa koin mempunyai 2 sisi yang berbeda.
Sekarang bukan kata2 atau nasihat yang kuinginkan dari orglain tapi saat2 saling mendengarkan. Tidak perlu sibuk mencari solusi, yang aku perlu hanya telinga dan mata yang menyimak. Hanya itu. Seperti perumpaan suatu keluarga. Seorang suami yang curiga kepada istrinya karena perselingkuhan dan sibuk mencari pria itu sedangkan sang istri sibuk dengan kekasih gelapnya dan berusaha menutupi itu semua.
Mereka tidak peduli bahwa ada yang harus lebih diperhatikan dibandingkan dengan kesibukkan mereka. Seseorang dan anugerah yang biasa disebut anak. Bukan materi yang dapat memuaskan anak itu. Kasih sayang. Mereka sibuk sedangkan anaknya sakit. Anaknya sakit, mereka tetap sibuk. Anaknya menyimpang, mereka menyalahi si anak dan kembali sibuk. Anaknya mulai bertanya, mereka terdiam dan sibuk lagi. Mereka terus sibuk tanpa melihat suatu perkembangan dan perubahan dari sekeliling terutama dari buah cinta mereka sendiri. Buah cinta mereka yang lama2 tenggelam dalam pemikirannya sama seperti cinta mereka yang tenggelam dalam pemikirannya.
Komitmen dan prinsip yang pada awalnya mereka susun dengan rapih menjadi awal dari sebuah buku yang mereka tulis tetapi tidak pernah sampai ke titik akhir. Sebuah klimaks kebahagiaan yang diimpikan pun tidak pernah datang karena sebuah prinsip yang salah. Tanggapan orang yang mereka khawatirkan. Selalu ingin dilihat berjalan lurus. Terlihat kuat tetapi ternyata rapuh. Terlihat sangat bahagia tetapi saling membenci. Terlihat begitu kokoh tetapi goyah. Hanya topeng dan tameng.
Friday, December 19, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment