Saturday, January 31, 2009

for only an hour

I met her.

Suatu janji yang perlahan terukir saat pertama kali membaca bukunya. Suatu janji yang baru saja aku langgar. Tidak seharusnya aku bertemu dengannya dengan cara seperti itu.

Kekikukan terjadi. Banyak ingin kuungkap tapi tak ada yang keluar. Hanya 2-3 kata terucap membuat kebingungan. Tak ada tawa dan senyum di bibirku. Hanya ingin semua itu cepat selesai. Membuatku membungkuk dengan murah.

" Maaf, bukunya ketinggalan. "
" Ngga, disitu aja. "
" Iya. "

1 hal yang baru kusadari. Kubiarkan dia menorehkan langsung di halaman paling terakhir di matahariku. Halaman yang penuh dengan hidup dan mimpiku. Halaman yang mengisi hidupku sejauh ini. Aku melarangnya membuka halaman depan tetapi membiarkannya masuk ke dalam duniaku dan matahariku. Mengisinya dengan warna yang sama dengan yang ada di halaman itu. Dia benar-benar masuk di dalamnya. Ke dalam hidupku.

Ada 4 kata yang dia tulis : " Have a great life "
Entah apa yang dia pikir dengan menulis itu. Mengapa begitu masuk ke dalamnya. Mengapa begitu menyatu. Apa memang itu suatu tulisan hafalan yang dia tuliskan ke semuanya? Masih tak mengerti dengan 4 kata itu. Dia sepertinya bisa membaca sesuatu dari segelintir sesuatu disana. Apa dengan 4 kata itu bisa membuatku mendapatkan pernyataan dari pertanyaan 4 kata itu? 4 kata yang masih menjadi pertanyaan untukku tapi sangat menyatu dengan segalanya.

Aku ingin tau dari dia. " Have a great life ".
Terima Kasih untuk 4 kata itu. Baru dia yang memberikan kata-kata itu untukku.

Friday, January 30, 2009

2 Januari 2009, 02.16 AM

" Biarkan aku mempunyai damaiku sendiri"

2 hari di 2009. Biasa. Memulai suatu buku baru.
Belum ada kata pengantar. Daftar isi yang akan terus bertambah dan berkurang.

Living in this world. Full of perceptions and judges.
Wanna out from that world. Living in my own world.
I don't care about politics and those thing called "ideology".
I live on what i believe in.

" Menjalankan di saat terang
Merasakan di saat gelap
Terang memberikan kekelaman
Gelap membawa cahaya "

Terus melihat terang membuat tidak bisa melihat gelap.
Terus melihat gelap membuat tidak bisa melihat terang.
Harus memilih antara kedua hal itu.
Tak ada yang samar. Tak ada yang abu-abu.

Membiarkan oranglain tampil apa adanya membuatku apa adanya.
Transparan. Indah saat orang-orang tak perlu memakai topeng dan tameng yang menjadi penutp. Bahkan untuk cinta sekalipun. Bahkan di hadapan Tuhan sekalipun.

Tuhan sahabatku, keluargaku, segalaku.
Aku tak ingin jadi pengikut-Mu ataupun umat-Mu. Aku ingin berjalan di samping-Mu. Kita saling merangkul dan bercakap-cakap. Saat aku lelah, Engkau menggedong aku dan saat Engkau lelah, aku menggendong-Mu. Kita saling percaya. Engkau bercerita kepadaku dan akupun begitu. Tawa dan sedih bersama.

Mencoba membuat segalanya lebih mungkin. Lebih masuk ke dalam jiwa.

" Hanya ingin diam. Hening
Merasakan kesendirianku
Aku mencintai keheningan
Aku nyaman dengan diam
Aku menikmati sendiriku "

Thursday, January 29, 2009

seseorang

Malam yang seharusnya indah. Malam perpisahan yang patut dikenang.

Seseorang yang cantik, anggun, baik, sombong, angkuh, yang sangat kucintai sekaligus kubenci.

Seseorang yang menghidupiku, yang merawatku, yang memberiku nafas, orang pertama yang mendengar tangisan pertamaku, yang memberikan penyesalan.

Seseorang yang mampu membuatku melayang dan terjatuh sekaligus.

Seseorang yang terlalu mahal untuk menunduk dan membungkuk.

Seseorang yang membentuk karakterku.

Seseorang tempat aku mengadu, menangis, bercerita dan orang yang kuumpat.

Mencoba kuikhlas tapi tak ada senyum.

Memberikan yang terbaik tapi hanya menganggapku sama.

Mengerti aku, mengapa mereka yang sedarah denganku menjadi kehilangan kendali dalam kapalnya hingga melenceng dari jalurnya dan menjadi sebuah ceret yang meletup-letup. Mengumpat aku kepada mereka, ternyata aku sama dengan mereka.

Seseorang yang membangunkan aku dengan teriakannya dalam mimpi indahku, memaksaku untuk hidup bersahabat dengan mimpi buruknya.

Waktu begitu cepat.
Ingin mengulang waktu di saat semuanya begitu indah, disaat aku masih tertidur lelap dan tak ada yang membangunkan aku. Membiarkan aku bermimpi indah sampai kematangan datang kepadaku dan berkata, " Dia sudah siap". Semuanya seperti bergilir. Mereka dihampiri saat mereka bersama dengan kedewasaan yang pas. Tidak pas kematangan berbicara kepadaku sehingga tidak ada tawar menawar dengan kedewasaan. Membuatku terdiam mendengar pembicaraan itu. Membisukan pikiran dan jiwaku. Menekan tombol pause kepada hidupku, memainkannya sehingga membuatku berjalan dalam permainannya yg hanya mempermainkanku.

Goresan demi goresan yang tercoreh membuat semua itu harus dijahit tetapi jahitan itu tidak pernah kering dan akan membekas. Setiap amarah yang timbul tidak pernah terselesaikan membuat semuanya membengkak dan siap diledakkan. Entah siapa yang selalu bisa membedakan kabel yang dapat mematikan bom itu. Menunjuk dirinya masing-masing. Tidak bisa mengerti karena memang semuanya sudah berubah.

Tak ada senyumnya. Tak ada pelukan hangatnya. Tak ada belaian lembutnya. Tak ada kecupan yang brarti. Tak ada hal yang ada di mimpiku.

Tak bisa membedakan kenyataan dan mimpi. Yang mana kenyataan?

Friday, January 2, 2009

Kisah Klasik

sama. berubah.

tidak bisa merasakan itu semua lagi dan mungkin belum saatnya. obrolan panjang tetapi singkat. tampaknya aku butuh seorang psikiater. aku membutuhkan seseorang yg dapat menolongku. aku runtuh. terkikis pasrah. aku jatuh. aku berdamai dengan damai tetapi sepertinya damai belum kurasakan. aku senang. aku takut. aku berdamai dengan damai tetapi semakin banyak pertanyaan aku dengan damai. aku sibuk dengan sendiriku, dengan duniaku. terlalu sibuk. menangis tetapi tak pernah ada yg mengerti mengapa. tertawa tetapi tak ada yang merasa lucu. berbicara tetapi tidak ada yang mengerti. aku bertanya tak ada yang bisa menjawab.

Ketidak sempurnaan membuat manusia bergantung. Ketidakberdayaan membuat manusia meminta tlng. Ketiadaan membuat manusia mencari. Kekurangan membuat manusia berusaha.

Manusia memang saling membutuhkan tetapi bagaimana oranglain tidak ada yang mengerti apa yang aku butuhkan. Aku membutuhkan lebih dari seorang pendengar. Aku membutuhkan lebih dari seorang penasehat. Aku membutuhkan lebih dari kebenaran. Aku membutuhkan lebih dari pertanyaan. Aku membutuhkan lebih dari pernyataan. Aku sangat membutuhkan jawaban dan kejujuran. Jawaban dari ketidaksempurnaan, ketidakberdayaan, ketiadaan, kekurangan. Jawaban dari semua ego umat manusia yang pada akhirnya hanya bisa diam. Kejujuran dari semuanya.

Jam 05 pagi skrg dan aku tak bisa tidur hanya karena perasaan konyol ini. Akhirnya aku dapatkan apa itu. Aku tau apa itu. 1 jam obrolan yang sangat berarti ternyata. Bukan hanya brdamai dengan damai tetapi mngerti perasaan ini. Perasaan yang terjawab saat dia bertanya,"Setelah sebulan kita dieman, lo seneng ga si denger suara gue?". Aku terdiam dan menjawab,"Gue senengla pasti". Jawaban datar kami sepakat. Kami terwata karena kedataran yang aku buat. Entah tawa apa. Tawa mengagetkan hening mungkin. Tawa abu-abu.

Kami terlalu naif. Kami terlalu munafik. Hidup di dalam topeng dan tameng. Aku berusaha membuka itu semua. Aku membukanya. Aku memberitahunya. Aku berbicara dengannya bukan dari pikiranku tetapi akhirnya dari hatiku. Tak semua karena masih ada batasan itu yang aku tak tau apa. Aku berkata,"Kita damai" tetapi lagi-lagi topeng itu yang kupakai. "Kita damai" tetapi masih ada batasan itu. "Kita damai" tetapi hatiku tidak berdamai. "Kita damai" tetapi jiwaku gelisah. Aku masih sibuk dengan pikiranku. Aku sibuk tetapi dia diam. Aku berbelok dan dia hanya mengikuti bukan merangkulku. Aku diam, dia sibuk agar aku ikut bergerak. Entah yang mana siklusnya. Aku bingung untuk bergerak. Mungkin memang tidak ada siklus.

Berusaha kumelepas ego itu. Berusaha kumelepas keomongkosongan itu tapi tak bisa. Berusaha sekuat tenaga. Benar-benar berusaha sekeras mungkin. Bergulat aku dengan diri ini.

1 yang kuungkapkan. 1 mewakili segalanya. "Kita berdamai tetapi tidak akan pernah menjadi seseorang untuk kita sendiri lagi". Sudah kuterima tak ada sapaan lagi. Tak ada ketergantungan lagi. Tak ada cerita yang berarti lagi. Tak ada tawa dan sedih itu lagi. Tak ada percaya lagi.Tak ada hati seorang sahabat. Tak ada senyuman sahabat.

Aku egois. Memang. Aku naif dan munafik. Aku iyakan semua perkataanmu. Aku iyakan semua yang kamu rasakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan. Aku iyakan.

Aku yakinkan hanya untuk damai itu kembali padaku. Aku tak peduli ada damai itu untukmu atau tidak. Aku tak peduli lagi tapi aku peduli. Ternyata aku peduli. Ingin berteriak aku masih peduli pada sahabat kecilku. Tertawa girang bahwa aku peduli. Aku peduli.

Waktu untuk berpikir selama sebulan tak ada kontak sama sekali. Setelah aku dan dia sepakat menjadi seperti yang dulu. Tetap aku tak bisa. Entah perasaan apa itu tapi perasaan itu bukan perasaan indah. A fake plastic. Semua memori indah seperti sudah siap untuk berabu. Semua memori tak ingin kuulang tapi akan aku ingat. Akan kurindukan. Selalu.

Lebih baik kamu pergi, damaiku. Sahabat kecilku. Biarkan aku mempunyai damaiku sendiri. Hanya biarkan aku sendiri. Diam. Hening. Mencoba berdiri dari rangkakan. Mencoba bertahan di setiap perubahan. Mencoba mengikhlaskan sahabat kecilku pergi. Membiarkan sahabat kecilku bahagia dengan damainya.

Thursday, January 1, 2009

alfa dan omega

alfa sebagai permulaan.
omega sebagai akhir.

Satu buku lagi telah selesai dan akan bertambah buku yang lain lagi. Memulai sesuatu tidak mudah dan berusaha mengakhiri dgn luar biasa.

Resolusi sebagai kata pengantar.
Impian sebagai daftar isi.

" selamat menulis buku baru "