Sepuluh hari berlalu.
Berada di kota tempatku bertumbuh.
Kota kecil yang mulai berkembang.
Kota yang semakin ramai.
Kota yang indah.
Sebuah kota yang selalu membuat mesin waktuku berjalan.
Mesin-mesin itu mulai mulai menyala.
Jejak-jejak langkah mulai tampak.
Monitor-monitor masa lalu mulai bermunculan.
Aku berjalan perlahan.
Mundur tahap demi tahap.
Lonceng pagi yang menandakan saatnya masuk kelas tak pernah kudengar karena hobby terlambatku yang sangat parah.
Tak pernah jera dimarahi.
Tak pernah kapok dengan hukuman.
Tak pernah kusedih ataupun bersungut karenanya.
Aku bahagia. Tak mengerti apa yang akan terjadi atau apa yang sedang terjadi di luar sana. Kepolosan dan keluguan yang pernah singgah.
Aku bermain, belajar sambil bermain dan terus bermain.
Tidak pernah absen satu kalipun untuk duduk di ayunan biru itu.
Tidak pernah menolak bermain perosotan.
Tidak pernah mau kehilangan taman bermainku. Selalu.
2 tahun kulalui taman kanak-kanak karena ibuku melarangku untuk melanjutkan SD di usia 6 tahun. Menurut dia, aku masih terlalu kecil. Entahla, katanya begitu.
Tak sia-sia 2 tahun kulewati.
Tak pernah kusesali hal itu.
Tak pernah kumarah karenanya.
Karena aku bermain.
Tarikan magnet yang membuat perasaan sedih dan marah hilang.
Sampai semuanya jelas bahwa aku bahagia berada 1 tahun lebih lama di tempat itu.
Lebih bahagia dan jauh lebih bahagia di tempat itu.
Guruku sering mengajak kami bernyanyi. Entah lagu apa. Aku lupa.
Dan guruku juga sering menyuruh kami menggambar.
Pada siang hari, kami disuruh menggambar bunga tetapi bukan bunga yang kugambar, yg kugambar hanya oret-oretan yang tak berbentuk. Guruku datang dan memeriksa kertas gambarku. Diambilnya pensil dan digenggamkannya di tanganku. Perlahan dia membuat jemariku menari. Perlahan membuat tarian itu berbentuk. Perlahan tarian itu menjadi keindahan. Keindahan gambar bunga yang pertama kali kubuat. Saat itu yang paling kuingat.
Beberapa lama berlalu dan aku tidak ingat kapan tepatnya. Guruku yang memberikan tarian pada jemariku, yang membuat keindahan di genggamanku telah tiada. Tepatnya di suatu siang di saat perjalanan pulang ke rumah sehabis mengajar kami di sekola. Entah karena apa. Aku tak mengerti.
Mesin waktu itu terus berputar dan terus berputar. Memberikan cuplikan-cuplikan indah di saatku kanak-kanak. Memberikan tawa dan haru yang tak bisa kubendung. Tak ada rasa takut yang terjadi. Hanya di sekolah itu aku merasakan bahwa sunyi sedang diam menungguku di rumah. Aku merasakan bahwa sunyi memberikanku kebebasan saat di sekolah. Oleh karena itu, tak pernah kuingin pergi dari sekolah itu.
Taman kanak-kanak hingga sekolah dasar pun kulalui bersama mereka. Aku menumpahkan bekalku sendiri di hari pertama, datang terlambat di hari pertama, membuat keributan, marah dan tawa yang kubagi, persahabatan yang indah kulalui bersama mereka, waktu yang tak dapat dibeli. Terlalu berharga.
Tak lama aku mengalami masa berharga itu. Hanya sebentar karena waktu yang membuat semua itu berhenti. Berhenti hanya untukku saja. Waktu yang membuat semuanya harus kutangisi. Tak bisa kusalahi siapapun. Aku masih terlalu kecil untuk memberontak. Aku masih terlalu kecil untuk berdiri sendiri. Aku pindah dan tak bertemu dengan mereka beberapa tahun.
8 tahun terlalu singkat untuk dirasakan. Teman-teman baru yang dekat denganku sudah kudapat tapi masih tetap cuplikan itu datang dan pergi. Aku bertemu dengan mereka tiba-tiba. Bertemu dengan sahabat-sahabatku semasa kecil. Melalui dunia maya yang tak kuduga-duga dan akhirnyapun aku bertemu dengan mereka. Teman-teman baik ku semasa kecil.
Tak kuduga pertemuan itu begitu melekat. Bukan karena waktu yang begitu lama tapi keapaadaan yang mereka terima. Tinggal di kota itu membuat pemikiran orang-orang disitu begitu sempit sehingga membuat pemikiran merekapun begitu. Kota kecil memang sehingga membuatku mengerti. Kekuranganku karena sudah terlau lama tinggal di kota besar ini. Membuat perbedaan yang cukup besar di antara kami. 1 perbedaan kecil sederhana yang membuat semuanya begitu besar. Kubuka kekuranganku di hadapan mereka. Di hadapan sahabat-sahabat semasa kecilku.
Kupikir penolakan yang mereka berikan. Awal yang membuatku takut. Awal yang memberikan perbedaan besar. Kubuka semua tentangku. Kuceritakan aku yang ternyata bertolak belakang dengan mereka. Takut kumemulai. Berakhir dengan mereka tersenyum. Kutahu mereka tak suka tapi mereka menerima. Penerimaan yang begitu berharga. Mereka merangkul sahabat mereka dan berjalan bersamanya. Tetap seperti dulu dan tetap tertawa bersama. Membuat sebuah janji konyol diantara kami. Memutar cuplikan-cuplikan indah kami. Kami sudah dewasa dan menjadikan kekurangan itu sempurna.
Hubungan yang timbul tenggelam tidak menjadi halangan kami berjalan. Aku tau persahabatan itu timbul saat kami kecil dan pelajaran paling berharga bagiku. Indah saat mereka ternyata masih menggenggam tanganku. Sahabat memang harus bisa menerima kekurangan untuk kesempurnaan. Mereka bukan sahabat semasa kecilku tetapi sahabatku hingga hari ini, besok dan nanti.Sahabat yang paling berarti. Mereka.
Wednesday, March 4, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 comments:
sahabat.
tuu kata yg gk pernah qhu lupain
wlpun kita ktemu d sd
yg msh anak"
gk tau apa arti sahabat sbnrnyh?
Tp,setelah kita ngumpul agy
ternyata hub diantara kita tuu gk pernah putus
kita ngrasa deket bgt
gk ada rasa canggung!
Kau taukn,ga!
Qhu,dela,indri,manda,desy
yg sama"idup d mdn
gk pernah sm sekali jln bareng
smua itu putus stlh
lulus d sd
tp,waktu kau dtng k mdn
kita ketemu!
Jalan sampek mlm
wlpun yg plng setia jln2
qhu,kau,indri,dela
[emank suka jln2,gk bz diem]
sampek nglakuin hal bodo
foto d MW
diambilin m pak polisi
trus yg foto mesra itu m pcr
[ini kau yg usulin kn,ga!Dasar!!!]
ahhh,
pokoknyh byk x lah!!
Luph u all
(:
gw stuju buat yg 1 ini..
byk org ngelupain sahabat2 yg dr SD..mnurut gw itu masa2 indah dan gak mungkin bisa kita lupain..dan mrekalah yang ABADI..
Post a Comment