Saturday, November 28, 2009

nyanyian bisu

suasana yang tercipta.
pembicaraan yang berkumandang.
pemadangan yang berbisik.
lukisan yang tertata.
semua tak pernah sama.

tangisan yang menata hidup, kesenangan yang merobek logika.
tak pernah sama.
disaat tulisan itu terketik, disaat membina bangunan yang kokoh.
tak pernah lagi berharga.
bisikan demi bisikan dan kebahagiaan yang tak bisa diganggu.
bangunan itu rubuh.

logika berkata kokoh tetapi hati tak pernah sama.
semuanya terasa hanya penipuan karakter.
karakter yang bertahun-tahun terbentuk bersama.
dirusak oleh sebuah karakter yang tak dikenal membuat komplikasi.
bimbang dan tak yakin selalu menjadi alasan.
individu kokoh yang berkata kuat ternyata hanya bualan.
jangan berkata, diam saja dan berdansalah.
nikmati saja lagu yang terdengar dan jangan pernah menatap.
karena semua itu hanya nyanyian bisu.

KITA KUAT hanya akan menjadi nyanyian bisu.

Thursday, November 26, 2009

a never ending life

melihat matahari terbit dan memulai untuk berjalan menuju garis start.
berjalan setapak, langkah kecil yang menuju tujuan besar.
menyiapkan diri dan dunia untuk menyambut matahari.
melangkah perlahan mengejar matahari yang terus berjalan seolah berlari.
menatap waktu yang tak pernah berhenti.
gelisah dan gundah terhadap detik yang berteriak sebagai pengingat.
gontai berjalan memandang meja dan kursi yang telah menunggu dalam diam.
menyadari selalu kalah terhadap waktu.
keringat yang mulai terkuras menanti matahari yang semakin tak tampak.
berlarian menatap matahari terbenam.
berlarian ke arah yang tak bertuan.
kembali ke dalam sebuah dekapan dan terikut terbenam.

apa hidup hanya sekedar pengikut matahari? atau hidup sebuah pencapaian terhadap matahari dan bahkan lebih? apa hidup hanya perputaran dangkal yang berhenti disaat tubuh ini terkujur kaku dan ditangisi? hidup lebih dari sekedar mengejar matahari.

Saturday, November 14, 2009

desa cikembang,cibereum,bandung selatan

Langkah perlahan menuju cita-cita yg besar. Langkah kecilpun mulai diambil, langkah kedamaian tercapai. Tak ingin kehilangan satu kesempatan.

Perjalanan ke tempat ini yang cukup melelahkan. Menaiki tronton ke tempat ini. Berjalan 45menit yg menanjak dengan mengangkat tas backpack yg cukup membuat bahu sakit. Hijau di setiap sisi membuat hati ini gembira, membuat hati ini berdamai dengan logika.

Tiba di sebuah tempat yg membuatku berpikir bahwa tempat itu tdk pantas disebut sebuah rumah. Tempat itu hanya sebuah pondokan yg berdinding anyaman dan hanya berpintu papan. Tempat itu kulihat,kumasuki dan tempat ini kusebut rumah.

Terlalu baik pak herman dan keluarganya. Terlalu sederhana dia. Seorang desa yg menerima seorang anak kota yang tak tau apa2 ttg hidup. Di setiap senyuman, tawa, obrolan, makan, tidur sampai sgala hal yg mereka lakukan, mereka memberikan keapa adaan. Mereka memberikan kedamaian. Mereka memberikan sisi hidup yg berbeda. Mereka membuat semuanya baik-baik saja. Mereka terlalu indah untuk disakiti.

Semakin dalam kutelusuri desa ini. Semakin banyak langkah yg kuraih. Kutetapkan untuk melihat. Kuteguhkan untuk meraih. Tak prnh menyesal berada di tmpt ini. Tak pernah kusesalkan perjalanan yg lelah itu. Semakin dalam semakin indah. Aku berada di tempat tinggi ini. Sangat dekat dengan hijau ini. Sangat dekat dengan awan. Sangat dekat dengan langit. Sangat dekat dengan hujan yg turun. Sangat dekat dengan kabut ini dan aku merasa sangat dekat dengan surga.

Aku melihatnya dan aku berbicara kepada Tuhan. Tuhan tersenyum dan membiarkanku untuk melihat semuanya. Aku berada di antara surga dan bumi.