Friday, April 3, 2009

April, 3rd 2009. fly.

Aku hanya seorang yang rentan, takut menghadapi kenyataan pahit, mencoba selalu lari dari masalah. Aku yang ramai mempunyai hati yang pendiam. Aku menghadapi kegalauan, Aku mengahadapi semuanya sendiri.

Tanggal 1 April 2009. Puncak dari segalanya.
Aku menangis di pelukan sahabatku. Aku berteriak di depan mukanya. Aku mengumpat di depan mukanya. Dia memelukku.
Malam yang panjang yang bisa membuatku tak sadarkan diri. Muntahku, umpatku, tangisku, sendiriku rasanya keluar semuanya. Aku jatuh, tersungkur ke bagian yang paling dalam. Tak kuat untuk berdiri dan memanjat. Tiba-tiba datang seorang malaikat yang memeberikan sayap untuk aku terbang ke atas tetapi dia pergi dan membuat sayap itu tak berguna karena aku tak tau cara untuk terbang.

Meminta tolong tetapi tidak ada yang mendengar. Berteriak tetapi tidak ada yang peduli. Mengumpat tetapi dilempari batu. Jatuh dan tak berdaya. Selalu belajar untuk terbang tetapi aku kelelahan dan terjatuh lagi. Malaikat itu hanya berkata terbang dan sayap itu akan mengikutimu. Aku tak mengerti.

Jurang ini aku lihat, kutelusuri. Ternyata ada oranglain yang kukenal. Dulu orang-orang itu iri melihat kebahagiaan yang aku punya dan aku bangga akan itu. Sekarang orang itu sudah punya kekuatan untuk memanjat sementara aku mempunyai sayap untuk terbang. Aku tidak berguna begitu juga sayap itu. Tertunduk lemas kepalaku karena orang itu akan pergi dari tempat ini.

Aku menyerah. Aku ingin mati bersama di jurang ini. Aku pasrah untuk dibunuh disini. Aku siap selalu dilempari batu. Aku ikhlas untuk sendiri. Aku akan menghadapi semuanya sendiri. Tetapi tak akan pernah aku berikan sayap itu kepada oranglain. Tak akan! Dan semuanya akan aku jalani sendiri.

Malaikat itu berjanji akan kembali untuk mengajariku.