Saturday, February 7, 2009

love life

Cinta itu setia, pengorbanan, kesabaran.

Tapi ga ada keikhlasan tidak ada cinta.

Cinta adalah keikhlasan.
Ikhlas menerima apapun yang terjadi.
Ikhlas menghadapi segalanya.
Ikhlas dengan semua kesetiaan.
Ikhlas dengan semua pengorbanan.
Ikhlas dengan semua kesabaran.
Ikhlas mencintai.
Ikhlas memaafkan.
Ikhlas tidak akan mendatangkan dendam.
Ikhlas pasti bersukacita.

Thanks GOD for everything has down to me for bad and good times.
Terima kasih karena Sahabatku memberikan suatu bab yang baru dalam buku ku yaitu suatu ulasan mengenai keikhlasan.

Monday, February 2, 2009

something affordable

Daun-daun berguguran terbawa angin tanpa arah. Arah hanyalah suatu kata ambigu yang tak bermakna yang hanya memberikan suatu perhentian. Daun menikmati hidupnya bersama angin. Berirama. Beriringan. Penuh cinta. Bebas. Awan selalu memberikan perlindungan yang paling dahsyat untuk mahluk hidup yang selalu merugikannya. Awan bebas mencintai bahkan dia bebas mencintai mahluk-mahluk yang akan membunuhnya. Indah memberikan senyum kepada pembenci. Indah memberikan perlindungan kepada perusak. Indah bisa bebas. Burung-burung terbang bebas di angkasa menanti lawannya menantang. Mengepak sayapnya memberikan kebebasan kepada yang melihatnya. Dengan gagahnya dia menyongsong mentari. Dengan sombongnya dia memamerkan sayapnya. Tiada henti. Penuh keyakinan. Mereka gembira. Mereka bernyanyi di saat matahari terbit. Mereka bebas.

Itu aku. Mereka semua adalah aku. Mereka adalah bagian diriku. Tidak ada yang sebahagia aku. Tidak ada yang sebebas aku. Aku bebas tanpa arah. Aku bebas terbang bersama angin. Aku bebas mencintai. Aku bebas menantang. Aku penuh percaya diri. Aku senang. Aku gembira. Aku bebas.

Tertawa aku. Hinanya aku. Kegilaan yang tiada taranya. Aku hanya menipumu saja. Aku bukanlah kawanan daun yang berguguran. Aku bukanlah segumpulan awan. Aku bukanlah segerombolan burung. Aku menipumu, kawan. Aku hanyalah lawan dari bebas. Aku mencari bebas tapi tak pernah kutemukan. Aku hanyalah daun yang kering. Aku adalah awan yang hitam yang hanya menimbulkan penyakit. Aku adalah burung yang sudah diburuh. Aku tak bisa tanpa arah. Aku tak bisa bebas mencintai. Aku tak bisa bebas melawan. Aku tak bisa bebas mengepakkan sayap. Aku harus berhenti dengan arah. Bebas bukanlah aku. Silahkan tertawa sepuasmu!
03-04-06. 03.44am.

Aku terbangun kaget dari tidurku yg lelap. Mencari gelisah handphone temanku yang saat itu sedang kupinjam. Melihat ada beberapa pesan singkat dan beberapa panggilan tak terjawab. Semua itu berasal dari 1 orang yang dengan gelisah menanti jawabanku. Mengetik cepat sebuah pesan singkat yang seharusnya sudah kubalas dari pukul 00.00. Pesan itu berisi :
" Boooodhhhiii..... Sori baru bales. Gue tadi ketiduran.
Iya gue mau jadi pacar lo. Gue juga sayang ma lo. "

Langsung kukirim pesan itu. Kulihat pesan terkirim dan aku tersenyum karenanya. Beberapa menit kemudian kudengar ada sebuah pesan masuk. Kuambil handphone dan kubuka pesan itu. Pesan itu ternyata dari Bodhi. Pesan itu berisi :
" Makasi ya lo mau jadi pacar gue. Gue sayang ma lo.
Lo tidur aja lagi. Good nite."

Tersenyum kumembacanya dan langsung kubalas :
" Oke. Gue tidur dulu ya. Lo juga tidur ya.
Nite nite."

Pesan terkirim. Langsung kumemejamkan mata dan tertidur lelap. Segaris tipis senyuman mengungkapkan hatiku yang sedang bergemuruh. Indah.

Pesan singkat. Seseorang yang menungguku untuk menjawab perasaan hatinya. Dia mengungkapkan saat kami sedang berjalan berdua. Bukan suatu pengungkapan yang romantis tetapi suatu yang berarti. Dia mengatakannya di depan mataku. Mengatakan dengan berani. Meminta tanpa memaksa. Menanyakan dengan tulus.

Aku memulai sesuatu lembaran baru menutup rapat-rapat lembar sebelumnya. Aku dan dia berkomitmen untuk memulai dan menghadapi semuanya berdua. Aku belajar untuk beradaptasi dengan kebersamaan. Dia mengajariku tentang kebersamaan. Dia memberikan keyakinan kepadaku. Aku mencintainya. Aku rasakan itu dan pertama kali aku melihat hal itu begitu nyata.

Kebahagiaan begitu cepat berlalu. Kebersamaan terlalu cepat beradaptasi. Semua itu meninggalkan bekas yang dalam yang sangat sukar hilang. Bukan seperti jejak kaki yang dapat dihapus oleh kawanan ombak dan gerombolan pasir. Bekas itu begitu nyata lebih nyata dari yang kurasalan sebelumnya.

Satu tahun 4 bulan. 5 Agustus 2007.
Tak lama hal itu singgah. Terlalu cepat sehingga membuatku mencoba untuk menahannya. Terlalu cepat membuatku semakin haus dan lapar. Kuingin kebahagiaan itu. Kuingin semuanya kembali. 1 Sahabat tetapi manusia yang memisahkan. Terlalu besar jurang yang harus kami lalui. Terlalu luas laut untuk kami sebrang. Terlalu tinggi gunung untuk kami naiki. Terlalu hebat badai itu. Terlalu bergemuruh ombak itu. Maaf tak bisa kulalui itu semua dan aku yakin kamupun tak bisa.

Kita harus menggunting paksa tali yang mengikatkan kita.
Kita harus membakar semua hadiah itu.
Kita harus melupakan dan terus melangkah.

Hampir 2 tahun.
Bekas itu belum hilang.
Gunting itu tumpul. Tali itu tidak benar-benar lepas.
Hadiah itu belum habis terbakar.
Tak hanya kata melupakan dapat mengobatinya.
Dengan melangkah tidak dapat menghapus jejakmu.

Aku disini terduduk manis melihat hadiah yang tak pernah hangus terbakar.
Aku mencoba mengikatkan tali itu tapi sudah terlalu tipis untuk dikaitkan.
Aku selalu setia menemani jejak langkahmu yang tertinggal.

Bekas itu aku kunci rapat. Tak ingin bekas itu hilang.
Belum kutemukan kunci yang dapat membukanya dan menutupnya bersih.

Walaupun bukan dia tetapi aku ingin dia.
Selamanya dia berada di jejak itu.
Selamanya menemaniku menatap hadiah yang telah hangus terbakar.
Selamanya terikat oleh tali itu.

Aku ingin melewatinya sama kamu. Selamanya.
Selamanya. Selamanya. Selamanya.






* Thanks for the inspiration